- Diposting oleh : MTs RUPA
- pada tanggal : Oktober 15, 2026
Kitab Ta'limul Muta'allim (تعليم المتعلم طريق التعلم, "Pengajaran bagi Penuntut Ilmu: Jalan Belajar") adalah kitab klasik tentang adab menuntut ilmu karya Imam Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad Az-Zarnuji (wafat sekitar tahun 593 Hijriah). Kitab ini menjadi pegangan utama para santri tentang niat yang benar, adab kepada guru, kesungguhan belajar, dan akhlak seorang penuntut ilmu.
Ketik pada kolom pencarian untuk langsung menemukan fasal yang dicari, atau klik judul fasal di bawah untuk membuka isinya. Setiap paragraf Arab dilengkapi terjemah Indonesia yang tersembunyi — klik tombol "Lihat Terjemahan" di bawahnya untuk membukanya.
Muqaddimah Mushannif
Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan anak cucu Adam dengan ilmu dan amal di atas seluruh alam, serta shalawat dan salam atas Muhammad, pemimpin bangsa Arab dan non-Arab, dan atas keluarga serta para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
Setelah itu... ketika aku melihat banyak penuntut ilmu di zaman kami yang bersemangat menuju ilmu tetapi tidak sampai kepadanya, dan terhalang dari manfaat serta buahnya — yaitu mengamalkannya dan menyebarkannya — karena mereka salah jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya. Siapa pun yang salah jalan akan tersesat, dan tidak akan mencapai tujuannya, sedikit atau banyak. Maka aku ingin dan senang menjelaskan kepada mereka jalan belajar, sebagaimana yang kulihat dalam kitab-kitab dan kudengar dari para guruku yang memiliki ilmu dan hikmah. Aku berharap doa dari para pencari ilmu yang ikhlas, agar aku beruntung dan selamat di hari pembalasan. Semua ini setelah aku beristikharah kepada Allah ta'ala dalam hal ini.
Kitab ini kunamai: Ta'limul Muta'allim, Jalan Belajar.
Kujadikan kitab ini terbagi dalam beberapa fasal:
Fasal tentang hakikat ilmu, fiqih, dan keutamaannya.
Fasal tentang niat dalam keadaan belajar.
Fasal tentang memilih ilmu, guru, teman, dan keteguhan.
Fasal tentang mengagungkan ilmu dan ahlinya.
Fasal tentang kesungguhan, ketekunan, dan cita-cita.
Fasal tentang awal pelajaran, kadarnya, dan urutannya.
Fasal tentang tawakal.
Fasal tentang waktu meraih ilmu.
Fasal tentang kasih sayang dan nasihat.
Fasal tentang mengambil faedah dan menimba adab.
Fasal tentang wara'.
Fasal tentang hal-hal yang mewariskan hafalan dan hal-hal yang mewariskan lupa.
Fasal tentang hal-hal yang mendatangkan rezeki dan hal-hal yang menghalanginya, serta hal-hal yang menambah umur dan yang menguranginya.
Tidak ada taufik bagiku kecuali dari Allah; kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.
Fasal 1 — Hakikat Ilmu, Fiqih, dan Keutamaannya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah."
Ketahuilah, tidak setiap ilmu wajib dipelajari oleh setiap muslim. Yang wajib atasnya hanyalah mempelajari ilmu tentang keadaan yang sedang ia jalani, sebagaimana dikatakan: sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang keadaan (amal yang sedang dihadapi), dan sebaik-baik amal adalah menjaga keadaan itu (agar sesuai syariat).
Seorang muslim wajib mempelajari apa yang ia butuhkan dalam keadaannya, dalam keadaan apa pun ia berada. Karena ia pasti shalat, maka wajib baginya mempelajari ilmu tentang apa yang terjadi dalam shalatnya, sekadar untuk dapat menunaikan kewajiban shalat.
Ia wajib mempelajari sekadar yang dapat menunaikan kewajiban, karena sesuatu yang menjadi perantara untuk menegakkan yang fardhu hukumnya fardhu, dan sesuatu yang menjadi perantara untuk menegakkan yang wajib hukumnya wajib. Demikian pula dalam puasa; dalam zakat jika ia memiliki harta; dalam haji jika haji wajib atasnya; demikian pula dalam jual beli jika ia berdagang.
Muhammad bin al-Hasan pernah ditanya: "Mengapa engkau tidak menulis kitab tentang zuhud?" Beliau menjawab: "Aku telah menulis kitab tentang jual beli." Maksudnya: orang yang zuhud adalah orang yang menjaga diri dari yang syubhat dan makruh dalam perdagangan.
Demikian pula dalam seluruh muamalah dan profesi: siapa yang menekuni salah satunya, wajib baginya mempelajari ilmu untuk menjaga diri dari yang haram di dalamnya. Demikian pula wajib baginya ilmu tentang keadaan hati — seperti tawakal, kembali kepada Allah, takut kepada Allah, dan ridha — karena semua itu ada dalam setiap keadaan.
Kemuliaan ilmu tidak tersembunyi bagi siapa pun, karena ilmu adalah kekhususan manusia. Sebab seluruh sifat selain ilmu dimiliki bersama oleh manusia dan seluruh hewan: seperti keberanian, kekuatan, kedermawanan, kasih sayang, dan lainnya — kecuali ilmu.
Dengan ilmullah Allah menampakkan keutamaan Adam 'alaihissalam atas para malaikat, dan memerintahkan mereka sujud kepadanya.
Kemuliaan ilmu adalah karena ia menjadi perantara menuju kebaikan dan takwa, yang dengannya seseorang berhak mendapat kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi. Sebagaimana dikatakan kepada Muhammad bin al-Hasan dalam bentuk syair:
Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi ahlinya, keutamaan, dan judul bagi setiap pujian.
Jadilah orang yang setiap hari mengambil tambahan faedah dari ilmu, dan berenanglah di lautan faedah-faedah.
Perdalamlah ilmu, karena fiqih adalah sebaik-baik penuntun menuju kebaikan dan takwa, dan seadil-adil penuju.
Dialah ilmu yang menuntun kepada jalan-jalan petunjuk; dialah benteng yang menyelamatkan dari segala kesulitan.
Sungguh, satu orang faqih yang wara' lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah.
Ilmu adalah perantara untuk mengetahui: sombong, tawadhu, ramah, menjaga diri, boros, kikir, dan lainnya. Demikian pula dalam seluruh akhlak, seperti dermawan, kikir, penakut, dan berani. Karena sombong, kikir, penakut, dan boros itu haram, dan tidak mungkin menjaga diri darinya kecuali dengan mengetahuinya dan mengetahui lawannya, maka wajib bagi setiap manusia mempelajarinya.
Imam yang mulia, al-Ustadz asy-Syahid Nashiruddin Abul Qasim, telah menulis kitab tentang akhlak — dan sebaik-baik karangan. Maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya.
Adapun mempelajari ilmu yang dibutuhkan sewaktu-waktu (bukan setiap saat) hukumnya fardhu kifayah: jika sebagian orang di suatu negeri telah melakukannya, gugurlah kewajiban dari yang lain. Jika di negeri itu tidak ada yang melakukannya, semuanya ikut berdosa; maka wajib bagi pemimpin memerintahkan mereka dan memaksa penduduk negeri untuk itu.
Dikatakan: ilmu yang dibutuhkan dalam setiap keadaan itu seperti makanan — setiap orang pasti membutuhkannya.
Ilmu yang dibutuhkan sewaktu-waktu seperti obat — dibutuhkan pada sebagian waktu.
Sedangkan ilmu perbintangan seperti penyakit — mempelajarinya haram, karena membahayakan dan tidak bermanfaat, sedangkan lari dari qadha dan qadar Allah tidak mungkin.
Maka seyogianya setiap muslim menyibukkan seluruh waktunya dengan zikir kepada Allah ta'ala, doa, merendahkan diri, membaca al-Qur'an, sedekah yang menolak bala, dan shalat. Ia memohon kepada Allah ta'ala ampunan dan keselamatan dalam agama dan akhirat, agar Allah menjaganya dari bala dan musibah. Karena siapa yang diberi rezeki (kemampuan) berdoa, ia tidak akan dihalangi dari dikabulkan. Jika bala itu memang sudah ditakdirkan menimpanya, ia pasti menimpanya — tetapi Allah akan melunakkannya dan memberinya kesabaran berkat doa.
Adapun jika seseorang mempelajari ilmu bintang sekadar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka itu boleh.
Adapun mempelajari ilmu kedokteran hukumnya boleh, karena ia salah satu sebab (ikhtiar), maka boleh dipelajari seperti sebab-sebab lainnya. Nabi 'alaihissalam pun pernah berobat.
Diriwayatkan dari asy-Syafi'i rahimahullah bahwa beliau berkata: "Ilmu itu ada dua: ilmu fiqih untuk agama, dan ilmu kedokteran untuk badan. Selain itu hanyalah bekal untuk majelis (obrolan)."
Adapun definisi ilmu: ia adalah sifat yang dengannya sesuatu yang disebut menjadi jelas bagi orang yang memiliki sifat itu, sebagaimana adanya. Sedangkan fiqih adalah mengetahui detail-detail ilmu beserta cara mengatasinya. Abu Hanifah rahimahullah berkata: "Fiqih adalah pengetahuan jiwa tentang apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya." Beliau juga berkata: "Ilmu tidak lain (bermanfaat) kecuali untuk diamalkan, dan mengamalkan ilmu adalah meninggalkan dunia demi akhirat."
Maka seyogianya manusia tidak lalai terhadap dirinya: apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakannya, di awal maupun akhirnya. Ia menarik apa yang bermanfaat baginya dan menjauhi apa yang membahayakannya, agar akal dan amalnya tidak menjadi hujjah (bukti yang memberatkannya) sehingga siksaannya bertambah. Kita berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya.
Telah datang tentang keutamaan ilmu banyak ayat dan hadits shahih yang masyhur, yang tidak kami sibukkan menyebutkannya agar kitab ini tidak panjang.
Fasal 2 — Niat dalam Menuntut Ilmu
Kemudian, ia harus berniat di masa belajarnya, karena niat adalah pokok dalam seluruh amal, berdasarkan sabda Nabi 'alaihissalam: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." Hadits shahih.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Betapa banyak amal yang tampak sebagai amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karena niat yang baik; dan betapa banyak amal yang tampak sebagai amal akhirat, lalu menjadi amal dunia karena niat yang buruk."
Seyogianya penuntut ilmu meniatkan belajarnya untuk ridha Allah dan negeri akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang-orang bodoh lainnya, menghidupkan agama dan melestarikan Islam — karena tegaknya Islam adalah dengan ilmu — dan tidak sah zuhud dan takwa disertai kebodohan.
Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Burhanuddin, penulis kitab al-Hidayah, mendendangkan syair untuk kami:
Kerusakan besar adalah orang alim yang rusak (akhlaknya); lebih besar darinya adalah orang bodoh yang sok ahli ibadah.
Keduanya adalah fitnah besar bagi seluruh manusia, bagi siapa yang berpegang pada keduanya dalam agamanya.
Ia meniatkan belajarnya sebagai syukur atas nikmat akal dan kesehatan badan. Ia tidak meniatkannya untuk menarik perhatian manusia, meraih harta dunia, atau kedudukan di sisi penguasa dan lainnya.
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah berkata: "Seandainya semua manusia menjadi budakku, niscaya akan kumerdekakan mereka dan kulepaskan perwalianku atas mereka."
Maksudnya: siapa yang telah merasakan lezatnya ilmu dan mengamalkannya, jarang ia menginginkan apa yang ada pada manusia. Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail ash-Shaffar al-Anshari mendendangkan untuk kami secara imla' (dikte), syair dari Abu Hanifah rahimahullah:
Siapa menuntut ilmu untuk akhirat, ia beruntung dengan karunia petunjuk.
Alangkah ruginya orang yang menuntutnya untuk meraih kemuliaan dari manusia.
Kecuali jika ia mencari kedudukan untuk amar ma'ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran, dan memuliakan agama — bukan untuk dirinya dan hawa nafsunya — maka itu boleh, sekadar untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
Seyogianya penuntut ilmu merenungkan hal itu: ia belajar dengan jerih payah yang besar, maka jangan ia tukarkan untuk dunia yang hina, sedikit, dan fana. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Takutlah kalian pada dunia; demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh dunia itu lebih menyihir daripada Harut dan Marut." Syair:
Dunia itu lebih sedikit dari yang sedikit; pecintanya lebih hina dari yang hina.
Dengan sihirnya ia menulikan dan membutakan suatu kaum; mereka bingung tanpa petunjuk.
Seyogianya orang berilmu tidak menghinakan dirinya dengan tamak pada yang bukan tempatnya, dan menjaga diri dari hal-hal yang menghinakan ilmu dan ahlinya. Hendaklah ia tawadhu — tawadhu itu di antara takabbur dan kehinaan — demikian pula menjaga diri (iffah); hal itu diketahui dalam kitab akhlak.
Syaikh al-Imam al-Ustadz Ruknuddin yang dikenal sebagai al-Adib al-Mukhtar mendendangkan untukku syair buatannya sendiri:
Sesungguhnya tawadhu termasuk sifat orang bertakwa; dengannya orang bertakwa naik ke tempat-tempat tinggi.
Di antara keajaiban: heran terhadap orang bodoh — dalam keadaannya, apakah ia bahagia atau celaka?
Atau bagaimana akhir umurnya atau ruhnya di hari perpisahan — jatuh ke bawah atau naik ke atas?
Kesombongan adalah sifat khusus milik Tuhan kita; maka jauhilah dan bertakwalah.
Abu Hanifah rahimahullah berkata kepada murid-muridnya: "Besarkanlah sorban kalian dan lebarkanlah lengan baju kalian." Beliau mengatakan itu agar ilmu dan ahlinya tidak diremehkan.
Seyogianya penuntut ilmu mendapatkan kitab wasiat yang ditulis Abu Hanifah radhiyallahu 'anhu untuk Yusuf bin Khalid as-Samti ketika ia kembali ke keluarganya; siapa yang mencari ilmu akan menemukannya. Guruku, Syaikhul Islam Burhanuddin Ali bin Abi Bakar — semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia — telah memerintahkanku untuk menulisnya ketika aku kembali ke negeriku, maka aku pun menulisnya. Kitab itu pasti dibutuhkan oleh pengajar dan mufti dalam bermuamalah dengan manusia. Dan taufik hanya dari Allah.
Fasal 3 — Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan Keteguhan
Seyogianya penuntut ilmu memilih dari setiap ilmu yang terbaik dan yang ia butuhkan dalam urusan agamanya saat ini, kemudian yang ia butuhkan di masa depan.
Ia mendahulukan ilmu tauhid dan ma'rifat, mengenal Allah ta'ala dengan dalil. Karena iman orang yang taqlid — meski sah menurut kami — tetapi ia berdosa karena meninggalkan istidlal (mencari dalil).
Ia memilih ilmu yang klasik (warisan ulama terdahulu), bukan hal-hal baru. Mereka berkata: "Berpeganglah pada yang klasik, jauhilah hal-hal baru." Jangan sibukkan dirimu dengan perdebatan yang muncul setelah wafatnya para ulama besar, karena itu menjauhkan dari fiqih, menyia-nyiakan umur, dan mewariskan kesepian serta permusuhan. Itu termasuk tanda-tanda kiamat dan diangkatnya ilmu dan fiqih, sebagaimana datang dalam hadits.
Adapun memilih guru: seyogianya ia memilih yang paling alim, paling wara', dan paling tua, sebagaimana Abu Hanifah memilih Hammad bin Sulaiman setelah pertimbangan dan pemikiran.
Beliau berkata: "Kudapati ia syaikh yang tenang, penyantun, dan penyabar dalam segala urusan." Beliau juga berkata: "Aku menetap pada Hammad bin Sulaiman, maka aku pun tumbuh (berkembang)."
Abu Hanifah rahimahullah berkata: "Aku mendengar seorang bijak dari para bijak Samarkand berkata: ada seorang penuntut ilmu bermusyawarah kepadaku tentang menuntut ilmu, dan ia telah bertekad pergi ke Bukhara untuk menuntut ilmu..."
Demikianlah seyogianya bermusyawarah dalam setiap urusan, karena Allah ta'ala memerintahkan Rasul-Nya 'alaihishshalatu wassalam untuk bermusyawarah dalam urusan-urusan, padahal tidak ada yang lebih cerdas darinya, namun ia tetap diperintah bermusyawarah. Beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam semua urusan hingga urusan rumah tangga. Ali karramallahu wajhah berkata: "Tidak akan binasa orang yang bermusyawarah."
Dikatakan: manusia ada tiga: orang (sempurna), setengah orang, dan bukan apa-apa. Orang (sempurna) adalah yang punya pendapat tepat dan bermusyawarah dengan orang-orang berakal. Setengah orang adalah yang punya pendapat tepat tetapi tidak bermusyawarah, atau bermusyawarah tetapi tidak punya pendapat. Bukan apa-apa adalah yang tidak punya pendapat dan tidak bermusyawarah. Ja'far ash-Shadiq berkata kepada Sufyan ats-Tsauri: "Bermusyawarahlah dalam urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah ta'ala."
Menuntut ilmu termasuk urusan paling tinggi dan paling sulit, maka musyawarah di dalamnya lebih penting dan lebih wajib.
Sang bijak rahimahullah berkata: "Jika engkau pergi ke Bukhara, jangan tergesa-gesa mendatangi para imam; tinggallah dua bulan hingga engkau merenung dan memilih guru. Karena jika engkau mendatangi seorang alim lalu memulai belajar padanya, bisa jadi pelajarannya tidak cocok bagimu lalu engkau meninggalkannya dan pergi ke yang lain — maka belajarmu tidak diberkahi. Renungkanlah dalam dua bulan untuk memilih guru, dan bermusyawarahlah, agar engkau tidak perlu meninggalkannya dan berpaling darinya; menetaplah padanya hingga belajarmu diberkahi dan ilmumu banyak bermanfaat."
Ketahuilah, sabar dan keteguhan adalah pokok besar dalam semua urusan, tetapi ia langka, sebagaimana dikatakan:
Setiap orang punya gerakan menuju puncak kemuliaan, tetapi keteguhan itu langka di kalangan manusia.
Seyogianya ia bersabar menahan apa yang diinginkan nafsu dan hawa nafsunya. Penyair berkata:
Sesungguhnya hawa nafsu adalah kehinaan itu sendiri; setiap orang yang roboh oleh hawa nafsu adalah orang yang hina.
Dikatakan: keberanian adalah sabar sesaat. Maka seyogianya ia menetap dan bersabar: pada gurunya, pada kitabnya hingga tidak meninggalkannya dalam keadaan terputus, pada satu bidang ilmu hingga tidak menyibukkan diri dengan bidang lain sebelum menguasai yang pertama, pada satu negeri hingga tidak pindah ke negeri lain tanpa keperluan — karena semua itu memecah urusan, menyibukkan hati, menyia-nyiakan waktu, dan menyakiti guru.
Dan bersabar atas cobaan dan musibah. Dikatakan: gudang-gudang karunia ada di atas jembatan-jembatan cobaan.
Aku pernah didendangkan syair — dikatakan itu milik Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah:
Ketahuilah, engkau tidak akan meraih ilmu kecuali dengan enam hal; akan kuberitakan keseluruhannya dengan jelas:
Kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.
Adapun memilih teman: seyogianya ia memilih yang rajin, wara', berwatak lurus, dan mudah memahami; larilah dari yang malas, penganggur, banyak bicara, perusak, dan pengadu domba.
Penyair berkata:
Jangan tanya tentang seseorang, lihatlah temannya; karena teman akan ditiru oleh yang berteman dengannya.
Jika ia buruk, jauhilah segera; jika ia baik, bertemanlah dengannya niscaya engkau mendapat petunjuk.
Aku didendangkan syair lain:
Jangan berteman dengan pemalas dalam keadaannya; betapa banyak orang baik rusak karena kerusakan orang lain.
Penularan si malas kepada yang rajin itu cepat, seperti bara yang diletakkan di abu lalu padam.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah Islam, kecuali kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (Hadits)
Dikatakan dalam hikmah berbahasa Persia:
Teman yang buruk lebih buruk daripada ular yang buruk — demi Dzat Allah yang suci, tempat bergantung.
Teman yang buruk membawamu ke neraka; teman yang baik membawamu pada kenikmatan (surga).
Dikatakan:
Jika engkau mencari ilmu dan ahlinya, atau saksi yang mengabarkan tentang yang ghaib,
maka nilailah tanah dari nama-namanya, dan nilailah teman dari temannya.
Fasal 4 — Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya
Ketahuilah, penuntut ilmu tidak akan meraih ilmu dan tidak akan mendapat manfaat darinya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahlinya, mengagungkan guru dan memuliakannya.
Dikatakan: tidaklah sampai siapa yang sampai kecuali dengan penghormatan, dan tidaklah jatuh siapa yang jatuh kecuali karena meninggalkan penghormatan. Dikatakan: penghormatan lebih baik daripada ketaatan; tidakkah engkau lihat bahwa manusia tidak kafir karena maksiat, tetapi kafir karena meremehkannya dan meninggalkan penghormatan.
Termasuk mengagungkan ilmu adalah mengagungkan guru. Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku adalah budak bagi siapa yang mengajariku satu huruf; jika ia mau, ia menjualku; jika ia mau, ia menjadikanku budak."
Aku didendangkan syair tentang itu:
Kulihat hak yang paling berhak adalah hak guru, dan yang paling wajib dijaga oleh setiap muslim.
Sungguh pantas dihadiahkan kepadanya kemuliaan — seribu dirham untuk mengajar satu huruf.
Karena siapa yang mengajarimu satu huruf dari yang engkau butuhkan dalam agama, ia adalah ayahmu dalam agama.
Guruku, Syaikh al-Imam Sadiduddin asy-Syirazi, berkata: para guru kami berkata: "Siapa yang ingin anaknya menjadi alim, hendaklah ia memperhatikan para fuqaha yang asing (perantau), memuliakan mereka, memberi mereka makan, dan memberi mereka sesuatu. Jika anaknya tidak menjadi alim, cucunya akan menjadi alim."
Termasuk memuliakan guru: tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memulai bicara di hadapannya kecuali dengan izinnya, tidak banyak bicara di hadapannya, tidak bertanya saat ia sedang jenuh, memperhatikan waktu, tidak mengetuk pintu melainkan bersabar hingga guru keluar.
Kesimpulannya: ia mencari ridhanya, menjauhi murkanya, dan melaksanakan perintahnya dalam hal yang bukan maksiat kepada Allah ta'ala, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Khaliq. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Sejahat-jahat manusia adalah orang yang menghilangkan agamanya demi dunia dengan maksiat kepada Khaliq." Termasuk memuliakannya: memuliakan anak-anaknya dan orang-orang yang terkait dengannya.
Guruku, Syaikhul Islam Burhanuddin penulis al-Hidayah rahimahullah, bercerita: ada seorang imam besar di Bukhara yang sedang duduk di majelis ilmu, dan ia berdiri di sela-sela pelajaran kadang-kadang. Mereka bertanya kepadanya, ia menjawab: "Anak guruku sedang bermain dengan anak-anak di gang, kadang ia datang ke pintu masjid; jika aku melihatnya, aku berdiri untuknya sebagai penghormatan kepada guruku."
Qadhi al-Imam Fakhruddin al-Arsabandi adalah pemimpin para imam di Merv, dan sultan sangat menghormatinya. Ia berkata: "Aku mendapatkan kedudukan ini karena berkhidmat kepada guru; aku berkhidmat kepada guru, Qadhi al-Imam Abu Zaid ad-Dabusi, aku melayaninya dan memasak makanannya (tiga puluh tahun) dan tidak memakan sedikit pun darinya."
Syaikh al-Imam al-Ajall Syamsul Aimmah al-Halwani rahimahullah pernah keluar dari Bukhara dan tinggal di sebuah desa beberapa hari karena suatu peristiwa yang menimpanya. Murid-muridnya menjenguknya, kecuali Syaikh al-Imam Syamsul Aimmah al-Qadhi Bakr bin Muhammad az-Zaranjari rahimahullah. Ketika bertemu, ia bertanya: "Mengapa engkau tidak menjengukku?" Ia menjawab: "Aku sibuk melayani ibuku." Beliau berkata: "Engkau akan diberi umur panjang, tetapi tidak akan diberi keindahan mengajar." Dan demikianlah keadaannya: ia tinggal di desa-desa hampir sepanjang waktunya, dan pengajarannya tidak teratur.
Maka siapa yang gurunya tersakiti olehnya, ia diharamkan dari berkah ilmu dan tidak mendapat manfaat ilmu kecuali sedikit.
Sesungguhnya guru dan dokter, keduanya tidak akan berguna nasihatnya jika keduanya tidak dimuliakan.
Maka bersabarlah atas penyakitmu jika engkau menjauhi dokternya, dan puaslah dengan kebodohanmu jika engkau menjauhi gurumu.
Dikisahkan bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid mengutus putranya kepada al-Ashmu'i untuk mengajari ilmu dan adab. Suatu hari ia melihatnya berwudhu membasuh kakinya, sedangkan putra khalifah menuangkan air ke kakinya. Maka al-Ashmu'i ditegur (dalam hal itu) dengan ucapan: "Aku mengutusnya kepadamu untuk mengajarinya dan mendidiknya; mengapa engkau tidak memerintahkannya menuangkan air dengan satu tangannya dan membasuh kakimu dengan tangan lainnya?"
Termasuk mengagungkan ilmu: mengagungkan kitab. Seyogianya penuntut ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Dikisahkan dari Syaikh Syamsul Aimmah al-Halwani rahimahullah bahwa beliau berkata: "Aku meraih ilmu ini dengan pengagungan; aku tidak mengambil kertas kecuali dalam keadaan suci." Syaikh al-Imam Syamsul Aimmah as-Sarakhsi pernah sakit perut di suatu malam dan mengulang pelajaran; ia berwudhu tujuh belas kali malam itu, karena ia tidak mengulang kecuali dalam keadaan suci. Ini karena ilmu adalah cahaya dan wudhu adalah cahaya, maka cahaya ilmu bertambah dengannya.
Guruku Syaikh Burhanuddin rahimahullah bercerita tentang seorang syaikh: ada seorang faqih yang meletakkan tempat tinta di atas kitab, maka ia berkata kepadanya (dalam bahasa Persia): "Engkau tidak akan sampai (pada ilmu)."
Guruku Qadhi al-Imam al-Ajall Fakhruddin yang dikenal sebagai Qadhikhan rahimahullah berkata: jika ia bermaksud meremehkan maka itu tidak boleh; yang lebih utama adalah menjauhinya.
Termasuk pengagungan: memperbagus tulisan kitab, tidak menulis kecil-kecil rapat, dan meninggalkan catatan pinggir kecuali saat terpaksa.
Abu Hanifah rahimahullah melihat sebuah kitab yang ditulis kecil-kecil rapat, maka beliau berkata: "Jangan menulis kecil-kecil rapat; jika engkau hidup, engkau akan menyesal; jika engkau mati, engkau akan dicela." Maksudnya: jika engkau tua dan cahaya matamu melemah, engkau akan menyesal.
Dikisahkan dari Syaikh al-Imam Majduddin ash-Sharkhi bahwa beliau berkata: "Kami tidak menyesal karena tidak menulis kecil-kecil rapat, kami tidak menyesal karena tidak memilih-milih (kitab), dan kami tidak menyesal karena tidak membandingkan (naskah)."
Seyogianya potongan (ukuran) kitab itu persegi, karena itu potongan kitab Abu Hanifah rahimahullah; dan itu lebih mudah untuk diangkat, diletakkan, dan dibaca.
Seyogianya tidak ada warna merah dalam tulisan, karena itu perbuatan para filsuf, bukan perbuatan salaf. Sebagian guru kami membenci penggunaan tinta merah.
Termasuk mengagungkan ilmu: mengagungkan teman-teman dalam menuntut ilmu dan belajar, dan orang yang ia belajar darinya. Merayu (menjilat) itu tercela kecuali dalam menuntut ilmu: seyogianya ia merayu gurunya dan teman-temannya agar mendapat manfaat dari mereka.
Seyogianya penuntut ilmu mendengarkan ilmu dan hikmah dengan pengagungan dan penghormatan, meski ia mendengar satu masalah atau satu hikmah seribu kali. Dikatakan: siapa yang pengagungannya setelah seribu kali tidak seperti pengagungannya pertama kali, ia bukan ahli ilmu.
Seyogianya penuntut ilmu tidak memilih jenis ilmu sendiri, melainkan menyerahkan urusannya kepada guru, karena guru telah memiliki pengalaman dalam hal itu, sehingga ia lebih tahu apa yang pantas bagi setiap orang dan apa yang cocok dengan tabiatnya.
Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Burhanul Haq wad-Din rahimahullah berkata:
para penuntut ilmu di zaman dahulu menyerahkan urusan belajar mereka kepada guru-guru mereka, maka mereka sampai pada maksud dan tujuan mereka. Sekarang mereka memilih sendiri, maka maksud mereka dari ilmu dan fiqih tidak tercapai.
Dikisahkan bahwa Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah pernah memulai dengan menulis (kitab) tentang shalat kepada Muhammad bin al-Hasan rahimahullah. Maka Muhammad bin al-Hasan berkata kepadanya: "Pergilah dan pelajarilah ilmu hadits, karena ilmu itu lebih cocok dengan tabiatmu." Maka ia menuntut ilmu hadits dan menjadi terdepan atas seluruh imam hadits.
Seyogianya penuntut ilmu tidak duduk dekat dengan guru saat pelajaran tanpa keperluan, melainkan jarak antara ia dan guru sejauh busur panah, karena itu lebih dekat kepada pengagungan.
Seyogianya penuntut ilmu menjaga diri dari akhlak tercela, karena akhlak tercela itu anjing-anjing maknawi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar." Padahal manusia belajar dengan perantara malaikat.
Akhlak tercela diketahui dalam kitab akhlak, dan kitab kami ini tidak memuat penjelasannya.
Hendaklah ia menjaga diri khususnya dari takabbur; dengan takabbur ilmu tidak akan didapat.
Dikatakan: Ilmu itu musuh bagi pemuda yang sombong, seperti banjir musuh bagi tempat yang tinggi.
Dikatakan: dengan kesungguhan, bukan dengan keberuntungan, setiap kemuliaan (diraih); apakah keberuntungan tanpa kesungguhan adalah kemuliaanku?
Betapa banyak budak menempati kedudukan orang merdeka, dan betapa banyak orang merdeka menempati kedudukan budak.
Fasal 5 — Kesungguhan, Ketekunan, dan Cita-cita Tinggi
Kemudian, penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, tekun, dan terus-menerus; dan kepada hal itulah isyarat al-Qur'an dalam firman-Nya ta'ala: "Wahai Yahya, ambillah kitab dengan kuat." Dan firman-Nya ta'ala: "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
Dikatakan: siapa mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapat; siapa mengetuk pintu terus-menerus, ia akan dimasuki. Dikatakan: sebesar usahamu, sebesar itu pula yang kauinginkan akan kaudapat.
Dikatakan: dalam belajar dan memperdalam ilmu dibutuhkan kesungguhan tiga pihak: penuntut ilmu, guru, dan ayah — jika masih hidup.
Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Sadiduddin asy-Syirazi mendendangkan untukku syair asy-Syafi'i rahimahumallah:
Kesungguhan mendekatkan setiap hal yang jauh; kesungguhan membuka setiap pintu yang tertutup.
Manusia yang paling berhak bercita-cita adalah orang bercita-cita yang diuji dengan hidup sempit.
Di antara bukti qadha dan hikmah-Nya: sengsaranya orang cerdas dan enaknya hidup orang bodoh.
Tetapi siapa diberi akal, diharamkan kekayaan — dua hal berlawanan yang saling berpisah sejauh-jauhnya.
Aku didendangkan syair orang lain:
Aku berangan-angan menjadi faqih yang pandai berdebat tanpa susah payah — padahal kegilaan itu bermacam-macam.
Mencari harta pun tidak didapat tanpa susah payah yang dipikul — lalu bagaimana dengan ilmu?
Abuth Thayyib al-Mutanabbi berkata:
Aku tidak melihat aib manusia yang lebih buruk daripada kurangnya orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan.
Penuntut ilmu harus begadang malam, sebagaimana kata penyair:
Sebesar jerih payah, setinggi itu kemuliaan diraih; siapa mencari kemuliaan, ia begadang malam.
Engkau mengharap kemuliaan lalu tidur di malam hari? Siapa mencari mutiara, ia menyelam ke laut.
Tingginya kedudukan diraih dengan cita-cita yang tinggi, dan (dikisahkan) tentang seseorang dalam begadang malam-malam.
Kutinggalkan tidur, Tuhanku, di malam-malam, demi ridha-Mu, wahai Pelindung para pelindung.
Siapa mengharap kemuliaan tanpa jerih payah, ia menyia-nyiakan umur dalam mencari yang mustahil.
Maka bimbinglah aku meraih ilmu, dan sampaikan aku pada puncak kemuliaan.
Dikatakan: jadikanlah malam sebagai kendaraan unta, niscaya engkau meraih harapan dengannya.
Pengarang berkata: aku pernah menggubah syair tentang makna ini:
Siapa ingin meraih semua harapannya, jadikanlah malamnya sebagai kendaraan untuk meraihnya.
Kurangilah makanmu agar engkau meraih begadang dengannya, jika engkau ingin — wahai sahabatku — mencapai kesempurnaan.
Dikatakan: siapa yang membuat dirinya begadang di malam hari, hatinya akan gembira di siang hari.
Penuntut ilmu harus tekun belajar dan mengulang di awal malam dan akhirnya, karena waktu antara maghrib dan isya serta waktu sahur adalah waktu yang diberkahi.
Dikatakan tentang makna ini:
Wahai penuntut ilmu, peganglah wara', jauhilah tidur, dan tinggalkan kenyang.
Tekunilah pelajaran, jangan berpisah darinya; karena ilmu tegak dan tinggi dengan pelajaran.
Maka manfaatkanlah hari-hari muda dan puncak masa remaja, sebagaimana dikatakan:
Sebesar jerih payah, sebesar itu yang kauinginkan diberikan; siapa mengharap cita-cita, ia bangun di malam hari.
Manfaatkanlah hari-hari muda — ketahuilah, masa muda tidak abadi.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketahuilah, agama ini kuat; maka masuklah ke dalamnya dengan lembut, dan jangan membuat dirimu benci beribadah kepada Allah ta'ala. Karena orang yang memaksakan diri (tanpa lembut) tidak akan memotong jarak dan tidak akan menyisakan punggung (tunggangan)."
Beliau 'alaihissalam bersabda: "Dirimu adalah tungganganmu, maka bersikaplah lembut padanya."
Maka penuntut ilmu harus memiliki cita-cita tinggi dalam beramal, karena seseorang terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya.
Abuth Thayyib rahimahullah berkata:
Sebesar tekad orang-orang, sebesar itu pula hasil-hasil tekad datang; dan sebesar kemuliaan orang-orang mulia, sebesar itu pula kemuliaan datang.
Hal-hal kecil tampak besar di mata orang kecil; hal-hal besar tampak kecil di mata orang besar.
Pilar dalam meraih segala sesuatu adalah kesungguhan dan cita-cita tinggi. Siapa yang cita-citanya menghafal seluruh kitab Muhammad bin al-Hasan, disertai kesungguhan dan ketekunan, maka tampaknya ia akan menghafal sebagian besarnya atau setengahnya. Adapun jika ia punya cita-cita tinggi tetapi tidak bersungguh-sungguh, atau bersungguh-sungguh tetapi tidak punya cita-cita tinggi, ia tidak akan meraih ilmu kecuali sedikit.
فَقَالَ الْحُكَمَاءُ: سَافِرْ لِيَحْصُلَ لَكَ مُلْكُ الدِّينِ وَالْآخِرَةِ. فَقَالَ: هَذَا أَحْسَنُ.
Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Radhiyuddin an-Naisaburi menyebutkan dalam kitab Makarimul Akhlaq bahwa Dzulqarnain ketika hendak bepergian untuk menguasai timur dan barat, ia bermusyawarah dengan para bijak dan berkata: "Bagaimana aku bepergian dengan kerajaan sebesar ini? Dunia itu sedikit dan fana, dan kerajaan dunia adalah urusan yang hina — ini bukan termasuk cita-cita tinggi." Para bijak berkata: "Bepergianlah agar engkau meraih kerajaan agama dan akhirat."
Ia berkata: "Itu lebih baik."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai hal-hal yang tinggi dan membenci hal-hal yang remeh."
Dikatakan: Jangan tergesa-gesa dalam urusanmu, dan langgengkanlah; tidaklah sama orang yang tongkatnya berhenti dengan orang yang terus berjalan.
Dikatakan: Abu Hanifah radhiyallahu 'anhu berkata kepada Abu Yusuf: "Dahulu engkau lamban (bodoh), lalu ketekunan mengeluarkanmu (dari kebodohan). Jauhilah malas, karena malas itu sial dan penyakit besar."
Syaikh al-Imam Abu Nashr ash-Shaffar al-Anshari berkata:
Wahai jiwa, wahai jiwa, jangan lemah dari beramal dalam kebaikan, keadilan, dan ihsan dengan tenang.
Setiap orang yang beramal dalam kebaikan akan bergembira; dan dalam bencana dan kesialan setiap pemalas.
Pengarang berkata: aku pernah menggubah syair tentang makna ini:
Tinggalkanlah kemalasan dan kelambanan, wahai jiwaku; jika tidak, tetaplah dalam kehinaan ini.
Aku tidak melihat bagian bagi para pemalas kecuali penyesalan dan terhalang dari harapan.
Dikatakan: Betapa banyak malu, lemah, dan penyesalan yang lahir bagi manusia dari kemalasan.
Jauhilah malas dalam membahas yang syubhat; apa yang kauketahui dan apa yang luput darimu, tanyakanlah.
Dikatakan: malas itu berasal dari kurangnya merenungi keutamaan ilmu.
Maka seyogianya ia memayahkan dirinya dalam meraih ilmu dengan kesungguhan dan ketekunan, dengan merenungi keutamaan ilmu. Karena ilmu itu kekal dengan kekalnya yang diketahui, sedangkan harta itu fana. Sebagaimana kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah:
Kami ridha dengan pembagian Sang Maha Perkasa atas kami: bagi kami ilmu, bagi musuh-musuh harta.
Karena harta akan fana dalam waktu dekat, sedangkan ilmu kekal tidak akan hilang.
Dengan ilmu yang bermanfaat didapat sebutan yang baik, dan itu kekal setelah wafatnya — itulah kehidupan abadi.
Syaikh al-Imam al-Ajall Zhahiruddin, mufti para imam, al-Hasan bin Ali yang dikenal sebagai al-Marghinani, mendendangkan untuk kami:
Orang-orang bodoh itu mati sebelum kematian mereka; orang-orang berilmu meski mati tetap hidup.
Syaikh al-Imam al-Ajall Burhanuddin rahimahullah mendendangkan untukku:
Dalam kebodohan sebelum mati ada kematian bagi ahlinya; jasad-jasad mereka sebelum kubur adalah kubur.
Jika seseorang tidak hidup dengan ilmu, ia mati — maka tidak ada kebangkitan baginya saat hari kebangkitan.
Guruku, Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullah, mendendangkan syair untukku:
Ilmu adalah derajat tertinggi di antara derajat-derajat; selainnya, kemuliaan yang tinggi ada di keramaian (dunia).
Orang berilmu kekal kemuliaannya berlipat ganda; orang bodoh setelah mati (hanya tinggal) tulang-belulang.
Jauh sekali — tidak akan mencapai batasnya orang yang naik dengan kedudukan, kekuasaan, dan pasukan.
Akan kudiktekan kepada kalian sebagian keutamaannya, maka dengarkanlah; aku tidak mampu menyebut semua keutamaan.
Dialah cahaya, seluruh cahaya yang menuntun dari kebutaan; orang bodoh sepanjang masa berada di antara kegelapan.
Dialah puncak yang tinggi yang melindungi siapa yang berlindung padanya; ia berjalan aman di tengah musibah.
Dengannya ia selamat sedangkan manusia dalam kelalaian mereka; dengannya ia berharap sedangkan ruh di antara tulang-belulang (saat sakaratul maut).
Dengannya manusia diberi syafaat, (sekalipun) ia pergi dalam keadaan bermaksiat menuju dasar neraka, seburuk-buruk akibat.
Siapa menginginkannya, ia menginginkan semua kebutuhan; siapa memilikinya, ia telah memiliki semua yang dituntut.
Dialah kedudukan tinggi, wahai orang berakal; jika engkau meraihnya, ringankanlah (hatimu) atas luputnya kedudukan-kedudukan.
Jika dunia dan enaknya kenikmatannya luput darimu, maka pejamkanlah (matamu darinya); karena ilmu adalah sebaik-baik anugerah.
Dikatakan tentang makna ini:
Jika orang berilmu bangga dengan ilmunya, maka ilmu fiqih lebih pantas dibanggakan.
Betapa banyak wewangian semerbak tetapi tidak seperti kesturi; betapa banyak burung terbang tetapi tidak seperti elang.
(Orang lain berkata):
Saudara ilmu itu hidup kekal setelah matinya, sedangkan tulang-belulangnya di bawah tanah telah hancur.
Orang bodoh itu mati padahal ia berjalan di atas bumi; ia tampak dari orang hidup padahal ia tidak ada.
Aku juga didendangkan syair sebagian mereka:
Fiqih adalah sesuatu termahal yang kausimpan; siapa mempelajari ilmu, kemuliaannya tidak akan hilang.
Maka usahakan untuk dirimu apa yang belum kauketahui; awal ilmu adalah semangat dan akhirnya (kemuliaan).
Cukuplah kelezatan ilmu, fiqih, dan pemahaman sebagai pendorong dan pemicu bagi orang berakal untuk meraih ilmu.
Kadang malas lahir dari banyaknya dahak dan kelembapan (tubuh).
Cara menguranginya: mengurangi makan. Dikatakan: tujuh puluh dokter sepakat bahwa lupa berasal dari banyaknya dahak, banyaknya dahak dari banyaknya minum air, banyaknya minum air dari banyaknya makan.
Roti kering memutus dahak; demikian pula makan kismis saat perut kosong, tetapi jangan banyak-banyak, agar tidak perlu minum air sehingga dahaknya bertambah.
Siwak mengurangi dahak, menambah hafalan dan kefasihan; ia sunnah yang agung, menambah pahala shalat dan membaca al-Qur'an.
Demikian pula muntah mengurangi dahak dan kelembapan.
Cara mengurangi makan: merenungi manfaat sedikit makan, yaitu: kesehatan, menjaga diri (iffah), dan mendahulukan orang lain (itsar). Dikatakan dalam syair:
Aib lalu aib lalu aib — celakanya seseorang karena makanan.
Dari Nabi 'alaihissalam bahwa beliau bersabda: "Tiga golongan yang dibenci Allah tanpa dosa (yakni karena tabiatnya): orang yang banyak makan, orang kikir, dan orang sombong."
Dan renungilah bahaya banyak makan, yaitu: penyakit-penyakit dan tumpulnya tabiat (kecerdasan). Dikatakan: "Perut kenyang menghilangkan kecerdasan."
Dikisahkan dari Galenus bahwa ia berkata: "Delima seluruhnya bermanfaat, ikan seluruhnya berbahaya; sedikit ikan lebih baik daripada banyak delima."
Di dalamnya juga: menyia-nyiakan harta; makan di atas kenyang itu murni bahaya dan berhak mendapat siksa di negeri akhirat; orang yang banyak makan dibenci di hati manusia.
Cara mengurangi makan: memakan makanan berlemak (yang mengenyangkan), mendahulukan yang paling lembut dan paling lezat saat makan, dan tidak makan bersama orang lapar kecuali jika ia punya tujuan yang benar — misalnya agar kuat berpuasa, shalat, dan amal-amal berat — maka itu boleh baginya.
Fasal 6 — Permulaan Pelajaran, Kadar, dan Urutannya
Guru kami, Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullah, biasa memulai pelajaran barunya pada hari Rabu. Beliau meriwayatkan sebuah hadis tentang hal itu dan menjadikannya dasar, yaitu sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidak ada sesuatu pun yang dimulai pada hari Rabu melainkan akan selesai (dengan baik)."
Demikian pula yang dilakukan ayahku. Beliau meriwayatkan hadis ini dari gurunya, Syaikh al-Imam al-Ajall Qiwamuddin Ahmad bin Abdir Rasyid rahimahullah.
Aku pernah mendengar dari orang yang kupercaya bahwa Syaikh Yusuf al-Hamadani rahimahullah biasa memulai setiap amal kebaikan pada hari Rabu.
Hal itu karena hari Rabu adalah hari diciptakannya cahaya, dan ia adalah hari yang sial bagi orang-orang kafir — maka hari itu menjadi penuh berkah bagi orang-orang mukmin.
Adapun kadar pelajaran baru untuk pemula: Abu Hanifah rahimahullah meriwayatkan dari Syaikh al-Qadhi al-Imam Umar bin Abi Bakr az-Zarnuji rahimahullah bahwa beliau berkata: Para guru kami rahimahumullah berkata, "Hendaknya porsi pelajaran baru bagi pemula adalah sebanyak yang bisa dikuasai dengan mengulang dua kali secara perlahan, lalu ditambah sedikit setiap hari — sehingga meskipun pelajarannya bertambah panjang dan banyak, tetap bisa dikuasai dengan dua kali pengulangan. Penambahannya dilakukan dengan lembut dan bertahap. Adapun jika sejak awal pelajaran barunya terlalu panjang hingga butuh diulang sepuluh kali, maka sampai akhir pun ia akan terus seperti itu, karena ia sudah terbiasa demikian, dan ia tidak akan bisa meninggalkan kebiasaan mengulang sebanyak itu kecuali dengan usaha yang sangat berat."
Ada yang berkata: pelajaran baru itu (ibarat) satu huruf, sedangkan pengulangan (ibarat) seribu huruf.
Hendaknya ia memulai dari materi yang paling mudah dipahami. Syaikh al-Imam al-Ustadz Syarafuddin al-'Uqaili rahimahullah berkata, "Yang benar menurutku dalam hal ini adalah apa yang dilakukan para guru kami rahimahumullah: mereka memilihkan untuk pemula ringkasan-ringkasan kitab al-Mabsuth, karena lebih mudah dipahami dan dikuasai, lebih jauh dari kebosanan, dan lebih banyak terjadi (dipraktikkan) di tengah masyarakat."
Hendaknya ia mencatat pelajaran barunya setelah benar-benar menguasainya dan banyak mengulanginya, karena itu sangat bermanfaat.
Pelajar jangan menulis sesuatu yang tidak dipahaminya, karena hal itu membuat watak menjadi tumpul, menghilangkan kecerdasan, dan menyia-nyiakan waktunya.
Hendaknya ia bersungguh-sungguh memahami penjelasan gurunya dengan perenungan, pemikiran, dan banyak pengulangan. Karena jika pelajaran barunya sedikit namun pengulangan dan perenungannya banyak, ia akan memahami dan menangkap (ilmunya). Ada yang berkata: "Menghafal dua huruf (dengan baik) lebih baik daripada mendengar dan membaca (banyak tanpa paham), dan memahami dua huruf lebih baik daripada menghafal dua baris." Jika ia meremehkan pemahaman dan tidak bersungguh-sungguh sekali atau dua kali, ia akan terbiasa meremehkan, sampai-sampai pembicaraan yang mudah pun tidak ia pahami.
Maka hendaknya ia tidak meremehkan pemahaman, tetapi bersungguh-sungguh, berdoa kepada Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya, karena Dia mengabulkan siapa yang berdoa kepada-Nya dan tidak mengecewakan siapa yang berharap kepada-Nya. Syaikh al-Ajall Qiwamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail ash-Shaffar al-Anshari mendiktekan kepadaku syair berikut yang diimlakan oleh al-Qadhi al-Khalil bin Ahmad asy-Syajari tentang hal itu:
وَإِذَا مَا حَفِظْتَ شَيْئًا أَعِدْهُ # ثُمَّ أَكِّدْهُ غَايَةَ التَّأْكِيدِ
كَيْ لَا يَزُولَ ثُمَّ عَلِّقْهُ كَيْ تَعُودَ # إِلَيْهِ وَإِلَى دَرْسِهِ عَلَى التَّأْبِيدِ
فَإِذَا مَا أَمِنْتَ مِنْهُ فَوَاتًا # فَانْتَدِبْ بَعْدَهُ لِشَيْءٍ جَدِيدِ
مَعَ تَكْرَارِ مَا تَقَدَّمَ مِنْهُ # وَاقْتِنَاءٍ لِشَأْنِ هَذَا الْمَزِيدِ
ذَاكِرِ النَّاسَ بِالْعُلُومِ لِتَحْيَا # لَا تَكُنْ مِنْ أُولِي النُّهَى بِبَعِيدِ
إِذَا كَتَمْتَ الْعُلُومَ أُنْسِيتَ حَتَّى # لَا تَرَى غَيْرَ جَاهِلٍ وَبَلِيدِ
ثُمَّ أُلْجِمْتَ فِي الْقِيَامَةِ نَارًا # وَتَلَهَّبْتَ بِالْعَذَابِ الشَّدِيدِ
Layanilah ilmu dengan pelayanan orang yang mengambil manfaat,
dan langgengkanlah pelajarannya dengan perbuatan yang terpuji.
Apabila engkau telah menghafal sesuatu, ulangilah,
lalu kukuhkanlah sekukuh-kukuhnya.
Agar tidak hilang, lalu tulislah agar engkau selalu kembali kepadanya
dan pelajarannya untuk selamanya.
Dan apabila engkau sudah aman dari kehilangannya,
beranjaklah setelah itu kepada hal yang baru,
disertai pengulangan atas apa yang telah lalu,
dan selalu menambah (ilmu) baru ini.
Diskusikanlah ilmu dengan orang-orang agar ia hidup;
janganlah engkau menjauh dari orang-orang berakal.
Jika engkau menyembunyikan ilmu, engkau akan dibuat lupa
hingga engkau tidak melihat kecuali orang bodoh dan dungu.
Lalu engkau akan dikekang dengan api di hari kiamat
dan terbakar oleh azab yang pedih.
Penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan mudzakarah (diskusi), munazharah (debat ilmiah), dan mutharahah (saling melempar pertanyaan). Hendaknya masing-masing dilakukan dengan adil, tenang, dan perenungan, serta menjauhi keributan (dan kemarahan). Karena debat dan diskusi itu pada hakikatnya adalah musyawarah, dan musyawarah itu bertujuan menggali kebenaran — dan itu hanya tercapai dengan perenungan, ketenangan, dan keadilan, bukan dengan amarah dan keributan.
Jika niatnya dalam berdebat hanya untuk membungkam lawan dan mengalahkannya, maka itu tidak halal; yang dihalalkan hanyalah untuk menampakkan kebenaran. Penyamaran (argumen) dan tipu daya tidak boleh dilakukan di dalamnya, kecuali jika lawannya keras kepala dan bukan pencari kebenaran. Muhammad bin Yahya apabila menghadapi kemusykilan dan jawabannya belum hadir, beliau berkata, "Apa yang kuwajibkan (atas diriku) tetap menjadi kewajibanku, dan aku sedang menelitinya — dan di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih berilmu."
Manfaat mutharahah dan munazharah lebih kuat daripada sekadar mengulang (sendiri), karena di dalamnya ada pengulangan plus tambahan (wawasan). Ada yang berkata, "Saling melempar pertanyaan selama satu jam lebih baik daripada mengulang (sendiri) selama sebulan." Tetapi itu dengan syarat (bersama) orang yang adil dan berwatak lurus. Jauhilah berdiskusi dengan orang yang keras kepala dan berwatak bengkok, karena watak itu menular, akhlak itu berpindah, dan bergaul itu berpengaruh.
Dalam syair yang disebutkan al-Khalil bin Ahmad ada banyak faedah. Ada yang berkata:
Ilmu, syaratnya bagi siapa yang melayaninya,
adalah menjadikan semua manusia sebagai pelayannya.
Hendaknya ia mengambil manfaat di setiap waktu dan keadaan dari semua orang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, ia mengambilnya." Ada yang berkata, "Ambillah yang jernih, tinggalkan yang keruh." Aku mendengar Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Fakhruddin al-Kasyani berkata, "Budak perempuan milik Abu Yusuf pernah dititipkan (sebagai amanah) di rumah Muhammad (bin al-Hasan). Ia bertanya kepadanya, 'Apakah engkau saat ini hafal sesuatu dari Abu Yusuf dalam ilmu fiqih?' Ia menjawab, 'Tidak, kecuali bahwa beliau sering mengulang-ulang dan berkata: saham daur (sahm ad-daur) itu gugur.' Maka Muhammad menghafalnya dari budak itu, padahal masalah itu selama ini menjadi kemusykilan baginya — dan kemusykilannya terangkat berkat kalimat itu." Maka diketahui bahwa mengambil manfaat itu mungkin dari siapa pun.
Hendaknya penuntut ilmu selalu merenungkan hal-hal yang pelik dalam ilmu di setiap waktu dan membiasakan itu, karena hal-hal yang pelik hanya bisa ditangkap dengan perenungan. Karena itu ada yang berkata, "Berenunglah, niscaya engkau akan memahami."
Perenungan sebelum berbicara itu wajib agar benar, karena ucapan itu seperti anak panah — maka harus diluruskan dulu sebelum dilepaskan agar tepat sasaran. Dalam ilmu ushul fiqih dikatakan: ini adalah kaidah besar, yaitu bahwa ucapan seorang faqih yang berdebat harus disertai perenungan.
Ada yang berkata, "Puncak akal adalah ucapan yang disertai ketelitian dan perenungan."
Seorang penyair berkata:
Aku berwasiat kepadamu tentang menyusun ucapan dengan lima hal,
jika engkau mau taat kepada pemberi wasiat yang penyayang.
Jangan lupakan sebab ucapan, waktunya, caranya, kadarnya,
dan tempatnya — semuanya.
وَلِهَذَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ حِينَ قِيلَ: بِمَ أَدْرَكْتَ الْعِلْمَ؟ قَالَ: مَا اسْتَنْكَفْتُ مِنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ وَمَا بَخِلْتُ مِنَ الْإِفَادَةِ. وَقِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: بِمَ أَدْرَكْتَ الْعِلْمَ؟ قَالَ: بِلِسَانٍ سَؤُولٍ، وَقَلْبٍ عَقُولٍ
Karena itulah Abu Yusuf ketika ditanya, "Dengan apa engkau meraih ilmu?" menjawab, "Aku tidak pernah gengsi mengambil manfaat dari siapa pun, dan aku tidak pernah pelit memberi manfaat." Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu pun ditanya, "Dengan apa engkau meraih ilmu?" Beliau menjawab, "Dengan lisan yang banyak bertanya dan hati yang banyak memahami."
Para penuntut ilmu di zaman dahulu sampai dijuluki "maa taquul" (apa pendapatmu), karena mereka sangat sering berkata, "Apa pendapatmu tentang masalah ini?"
Abu Hanifah rahimahullah menjadi faqih berkat banyaknya mutharahah dan mudzakarah di tokonya ketika beliau masih berdagang kain. Dari sini diketahui bahwa meraih ilmu dan fiqih bisa berjalan bersamaan dengan mencari nafkah. Abu Hafsh al-Kabir pun bekerja sambil mengulang-ulang ilmu. Maka jika penuntut ilmu memang harus bekerja untuk menafkahi keluarga dan lainnya, hendaklah ia bekerja sambil tetap mengulang dan berdiskusi, dan jangan malas.
Orang yang sehat akal dan badannya tidak punya alasan untuk meninggalkan belajar dan mendalami fiqih — karena ia tidak akan lebih miskin daripada Abu Yusuf, dan kemiskinan itu tidak menghalanginya untuk menjadi faqih.
Barang siapa memiliki harta yang banyak, maka sebaik-baik harta yang saleh adalah harta yang dimiliki orang saleh dan dibelanjakan di jalan ilmu. Seorang alim ditanya, "Dengan apa engkau meraih ilmu?" Ia menjawab, "Dengan ayah yang kaya." Karena para ahli ilmu dan orang-orang utama mendapat manfaat dari hartanya — dan itu menjadi sebab bertambahnya ilmu, sebab itu adalah bentuk syukur atas nikmat akal dan ilmu, dan syukur adalah sebab bertambahnya (nikmat). Ada yang berkata: Abu Hanifah rahimahullah berkata, "Sesungguhnya aku meraih ilmu dengan hamdalah dan syukur; setiap kali aku memahami dan diberi taufik atas suatu fiqih dan hikmah, aku mengucapkan alhamdulillah, maka bertambahlah ilmuku."
Demikianlah hendaknya penuntut ilmu menyibukkan diri dengan syukur — dengan lisan, hati, anggota badan, dan keadaan — serta memandang bahwa pemahaman, ilmu, dan taufik itu dari Allah Ta'ala, dan memohon hidayah kepada Allah Ta'ala dengan berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Karena Allah Ta'ala memberi petunjuk kepada siapa yang meminta petunjuk kepada-Nya.
Maka ahlul haq — yaitu Ahlussunnah wal Jama'ah — memohon kebenaran kepada Allah Ta'ala: kebenaran yang nyata, yang memberi petunjuk dan menjaga. Maka Allah memberi mereka petunjuk dan menjaga mereka dari kesesatan. Sedangkan ahlud dhalal (orang-orang sesat) merasa bangga dengan pendapat dan akal mereka, dan mencari kebenaran dari makhluk yang lemah, yaitu akal — padahal akal tidak bisa menjangkau segala sesuatu, seperti halnya penglihatan yang tidak bisa melihat segala sesuatu. Maka mereka terhalang dan tidak mampu mengenal-Nya, lalu mereka sesat dan menyesatkan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang lalai adalah yang beramal dengan kelalaiannya, dan orang yang berakal adalah yang beramal dengan akalnya." Beramal dengan akal yang pertama adalah mengenali kelemahan dirinya sendiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya." Jika ia mengenali kelemahan dirinya, ia akan mengenali kekuasaan Allah 'azza wa jalla; ia tidak bersandar pada dirinya dan akalnya, tetapi bertawakal kepada Allah dan memohon kebenaran dari-Nya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia mencukupinya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.
Barang siapa memiliki harta yang banyak, janganlah pelit; hendaknya ia berlindung kepada Allah dari sifat pelit. Nabi 'alaihissalam bersabda, "Obat apa yang lebih buruk daripada sifat pelit?" Ayah dari Syaikh al-Imam al-Ajall Syamsul A'immah al-Halwani rahimahullah adalah orang miskin yang berjualan manisan. Ia memberi manisan kepada para fuqaha dan berkata, "Doakanlah anakku." Maka berkat kedermawanannya, keyakinannya, kasih sayangnya, dan doanya yang merendahkan diri kepada Allah Ta'ala, anaknya meraih apa yang diraihnya (menjadi ulama besar).
Dengan harta itu ia membeli kitab-kitab dan menyuruh menyalinkan kitab, sehingga menjadi penolong dalam belajar dan mendalami fiqih.
Muhammad bin al-Hasan memiliki harta yang banyak — sampai-sampai ia memiliki tiga ratus orang wakil yang mengurus hartanya — dan ia menginfakkan semuanya untuk ilmu dan fiqih hingga tidak tersisa satu pun pakaian bagus untuknya. Abu Yusuf melihatnya memakai pakaian yang sudah usang, lalu mengirimkan pakaian-pakaian bagus kepadanya, tetapi ia tidak menerimanya. Ia berkata, "Disegerakan untuk kalian, ditangguhkan untuk kami." Barangkali ia menolaknya — padahal menerima hadiah itu sunnah — karena ia melihat ada kehinaan bagi dirinya dalam hal itu. Rasulullah 'alaihish shalatu wassalam bersabda, "Tidak pantas bagi seorang mukmin menghinakan dirinya sendiri."
Dikisahkan bahwa Syaikh Fakhrul Islam al-Arsabandi rahimahullah mengumpulkan kulit-kulit semangka yang dibuang di tempat sepi lalu memakannya. Seorang budak perempuan melihatnya dan memberitahukan hal itu kepada tuannya, lalu tuannya membuatkan jamuan untuknya dan mengundangnya — tetapi beliau menolak undangan itu karena hal tersebut (ia tidak mau menerima belas kasihan).
Demikianlah hendaknya penuntut ilmu memiliki cita-cita yang tinggi dan tidak mengharapkan harta orang lain. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jauhilah sifat tamak, karena ia adalah kemiskinan yang nyata." Dan janganlah ia pelit dengan harta yang dimilikinya, tetapi nafkahkanlah untuk dirinya dan untuk orang lain.
Nabi 'alaihish shalatu wassalam bersabda, "Semua manusia itu dalam kefakiran karena takut miskin." Di zaman dahulu orang-orang mempelajari suatu keterampilan (pekerjaan) terlebih dahulu, baru kemudian mempelajari ilmu, agar mereka tidak mengharapkan harta orang lain. Dan dalam sebuah hikmah dikatakan, "Barang siapa merasa cukup dengan harta orang lain, ia akan menjadi fakir."
Seorang alim jika bersifat tamak, maka kehormatan ilmu tidak akan tersisa padanya, dan ia tidak akan berani berkata benar. Karena itu penulis kitab asy-Syarh 'alaihissalam biasa berlindung (kepada Allah) dan berdoa, "Aku berlindung kepada Allah dari ketamakan yang merendahkan martabat."
Hendaknya ia tidak berharap kecuali kepada Allah Ta'ala dan tidak takut kecuali kepada-Nya. Hal itu tampak pada melanggar atau tidaknya batas-batas syariat: barang siapa bermaksiat kepada Allah Ta'ala karena takut kepada makhluk, maka ia telah takut kepada selain Allah Ta'ala. Namun jika ia tidak bermaksiat kepada Allah Ta'ala karena takut kepada makhluk dan ia menjaga batas-batas syariat, maka ia tidak takut kepada selain Allah Ta'ala, melainkan takut kepada Allah Ta'ala. Demikian pula dalam hal berharap.
Hendaknya penuntut ilmu menetapkan dan menakar untuk dirinya target dalam mengulang; karena hatinya tidak akan tenang hingga mencapai target tersebut.
Hendaknya penuntut ilmu mengulang pelajaran kemarin lima kali, pelajaran sehari sebelum kemarin empat kali, yang sebelumnya tiga kali, yang sebelumnya dua kali, dan yang sebelumnya satu kali. Cara ini lebih menguatkan hafalan.
Hendaknya ia tidak membiasakan bersuara lirih dalam mengulang, karena belajar dan mengulang itu hendaknya dengan kuat dan bersemangat; tetapi juga jangan mengeraskan suara hingga melelahkan dirinya agar tidak terputus dari mengulang — sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. Dikisahkan bahwa Abu Yusuf rahimahullah berdiskusi fiqih dengan para fuqaha dengan kuat dan bersemangat, padahal menantunya yang ada di sisinya heran dengan keadaannya dan berkata, "Aku tahu ia sudah lapar sejak lima hari, namun ia tetap berdebat dengan kuat dan bersemangat."
Hendaknya penuntut ilmu tidak mengalami masa jeda (malas), karena itu adalah penyakit. Guru kami, Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullah, berkata, "Aku mengalahkan rekan-rekanku (dalam ilmu) karena aku tidak pernah mengalami masa jeda dalam menuntut ilmu." Beliau juga bercerita tentang Syaikh al-Asbijabi: pada masa ia menuntut ilmu, ia mengalami masa jeda selama dua belas tahun akibat pergantian kekuasaan. Maka ia pergi bersama rekannya dalam munazharah (ke tempat di mana keduanya bisa melanjutkan menuntut ilmu, dan mereka terus mempelajarinya bersama) — dan keduanya tidak meninggalkan duduk untuk berdiskusi selama dua belas tahun itu. Akhirnya rekannya menjadi Syaikhul Islam bagi kalangan Syafi'iyyah, padahal ia sendiri bermazhab Syafi'i.
Guru kami, Syaikh al-Qadhi al-Imam Fakhrul Islam Qadhi Khan, berkata, "Hendaknya seorang yang mendalami fiqih selalu menghafal (satu kitab) dari (kitab-kitab) fiqih, maka setelah itu akan mudah baginya menghafal apa yang ia dengar dari ilmu fiqih."
Fasal 7 — Tawakal
Kemudian, penuntut ilmu wajib bertawakal dalam menuntut ilmu: ia tidak perlu risau soal rezeki dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal itu. Abu Hanifah rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin al-Harits az-Zubaidi, sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Barang siapa mendalami agama Allah, Allah Ta'ala akan mencukupkan keperluannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
Karena barang siapa hatinya tersibukkan oleh urusan rezeki — makanan dan pakaian — maka jarang ia bisa meluangkan diri untuk meraih akhlak-akhlak mulia dan perkara-perkara yang tinggi.
دَعِ الْمَكَارِمَ لَا تَرْحَلْ لِبُغْيَتِهَا وَاقْعُدْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الطَّاعِمُ الْكَاسِي
Ada yang berkata dalam syairnya:
Tinggalkanlah akhlak-akhlak mulia, jangan bersusah payah mencarinya;
duduklah saja, karena engkaulah yang (tetap) makan dan berpakaian.
Seseorang berkata kepada (Ibnu) Manshur al-Hallaj, "Berilah aku wasiat." Maka (Ibnu) Manshur menjawab, "(Wasiatku adalah:) dirimu sendiri — jika engkau tidak menyibukkannya (dengan kebaikan), ia akan menyibukkanmu (dengan keburukan)."
Maka hendaknya setiap orang menyibukkan dirinya dengan amal-amal kebaikan agar dirinya tidak menyibukkan dirinya dengan hawa nafsunya.
Orang yang berakal tidak perlu risau terhadap urusan dunia, karena kegelisahan dan kesedihan tidak menolak musibah, tidak bermanfaat, bahkan membahayakan hati dan akal, serta mengganggu amal-amal kebaikan. Hendaknya ia risau terhadap urusan akhirat, karena itu bermanfaat. Adapun sabda Nabi 'alaihish shalatu wassalam, "Sesungguhnya di antara dosa ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus kecuali oleh kegelisahan mencari penghidupan," maka yang dimaksud adalah kadar kegelisahan yang tidak mengganggu amal kebaikan dan tidak menyibukkan hati hingga mengganggu kehadiran hati dalam shalat. Karena kadar kegelisahan dan perhatian seperti itu termasuk amal akhirat.
Penuntut ilmu wajib mengurangi keterikatan-keterikatan duniawi sebisa mungkin — karena itulah para ulama memilih merantau (jauh dari kampung halaman untuk menuntut ilmu).
Ia juga harus tahan menanggung keletihan dan kesusahan dalam perjalanan menuntut ilmu, sebagaimana dikatakan Musa — shalawat Allah atas nabi kita dan atasnya — dalam perjalanan menuntut ilmu, dan tidak dinukilkan darinya ucapan seperti itu dalam perjalanan-perjalanan lainnya: "(Sungguh kami telah merasa sangat letih karena perjalanan kami ini)" (QS. al-Kahfi: 62). Agar diketahui bahwa perjalanan ilmu tidak lepas dari kelelahan, karena menuntut ilmu adalah perkara yang agung — bahkan lebih utama daripada berperang (di jalan Allah) menurut kebanyakan ulama — dan pahala itu sebanding dengan keletihan dan kesusahan.
Barang siapa sabar atas keletihan itu, ia akan merasakan kenikmatan ilmu yang mengalahkan (kenikmatan-kenikmatan dunia). Karena itulah Muhammad bin al-Hasan, apabila ia begadang semalaman dan kemusykilan-kemusykilan terpecahkan baginya, berkata, "Di manakah anak-anak raja bisa merasakan kenikmatan seperti ini?"
Hendaknya (penuntut ilmu) tidak menyibukkan diri dengan sesuatu (selain ilmu) dan tidak berpaling dari fiqih. Muhammad bin al-Hasan rahimahullah berkata, "Keahlian kami ini (ilmu) adalah dari buaian hingga liang lahat. Barang siapa ingin meninggalkan ilmu kami ini sesaat saja, maka tinggalkanlah sekarang juga."
Seorang faqih, yaitu Ibrahim bin al-Jarrah, masuk menemui Abu Yusuf untuk menjenguknya di saat sakit yang membawanya pada kematian, ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut. Abu Yusuf berkata, "Melempar jumrah itu lebih utama dengan berkendara atau berjalan kaki?" Ibrahim tidak tahu jawabannya, maka Abu Yusuf menjawabnya sendiri.
Demikianlah hendaknya seorang faqih menyibukkan diri dengannya (ilmu fiqih) di seluruh waktunya; (maka saat itu) ia akan merasakan kenikmatan yang besar dalam hal itu. Ada yang berkata: Muhammad (bin al-Hasan) terlihat dalam mimpi setelah wafatnya, lalu ditanya, "Bagaimana keadaanmu saat sakaratul maut?" Ia menjawab, "Aku sedang merenungkan satu masalah dari masalah-masalah al-mukatab (budak yang menebus dirinya), sehingga aku tidak merasakan keluarnya ruhku." Ada pula yang berkata bahwa di akhir hayatnya ia berkata, "Masalah-masalah al-mukatab telah menyibukkanku dari mempersiapkan diri untuk hari ini (kematian)." Ucapan itu semata-mata karena tawadhu' (rendah hati) beliau.
Fasal 8 — Waktu Menuntut Ilmu
Ada yang berkata: waktu belajar itu dari buaian hingga liang lahat. Hasan bin Ziyad mulai mendalami fiqih ketika berusia delapan puluh tahun; ia tidak tidur di atas kasur selama empat puluh tahun, lalu setelah itu ia berfatwa selama empat puluh tahun.
Waktu yang paling utama adalah masa muda, waktu sahur (sepertiga malam terakhir), dan waktu antara maghrib dan isya. Hendaknya ia menghabiskan seluruh waktunya (untuk ilmu); jika bosan dengan satu ilmu, berpindahlah ke ilmu yang lain. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu apabila bosan dengan ilmu kalam (teologi), beliau berkata, "Bawakan kepadaku diwan para penyair."
Muhammad bin al-Hasan tidak tidur di malam hari; ia meletakkan buku-buku catatan di sisinya, dan apabila bosan dengan satu jenis (ilmu), ia melihat jenis yang lain. (Ia juga meletakkan air di sisinya dan menghilangkan kantuknya dengan air; ia berkata, "Sesungguhnya kantuk itu berasal dari panas.")
Fasal 9 — Kasih Sayang dan Nasihat
Hendaknya pemilik ilmu itu penyayang, suka menasihati, dan tidak dengki — karena dengki itu membahayakan dan tidak bermanfaat. Guru kami, Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullah, berkata: Ada yang berkata bahwa anak seorang guru (pengajar al-Qur'an) menjadi alim, karena sang guru ingin muridnya dalam al-Qur'an menjadi alim; maka berkat keyakinan dan kasih sayangnya, anaknya menjadi alim.
Abu al-Hasan bercerita bahwa ash-Shadr al-Ajall Burhanul A'immah menetapkan waktu pelajaran baru untuk kedua putranya — ash-Shadr asy-Syahid Husamuddin (dan ash-Shadr) as-Sa'id Tajuddin — pada waktu dhuha besar, setelah semua pelajaran (murid-murid lain selesai). Keduanya berkata, "Watak kami lelah dan bosan pada waktu itu." Maka ayah mereka rahimahullah berkata, "Orang-orang asing dan anak-anak para pembesar mendatangiku dari berbagai penjuru bumi, maka aku harus mendahulukan pelajaran mereka." Maka berkat kasih sayangnya itu, kedua putranya mengungguli kebanyakan fuqaha di berbagai negeri dan penduduk bumi pada masa itu.
لَا تَجْزِ [إِنْسَانًا] عَلَى سُوءِ فِعْلِهِ سَيَكْفِيهِ مَا فِيهِ وَمَا هُوَ فَاعِلُهُ
Hendaknya ia tidak bertengkar dengan siapa pun dan tidak bermusuhan, karena itu menyia-nyiakan waktunya. Ada yang berkata: Orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan dicukupi oleh keburukannya sendiri. Syaikh al-Imam az-Zahid al-'Arif Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakr — yang dikenal dengan Imam Khwahar Zadah, mufti dua golongan, rahimahullah — mendendangkan kepadaku (syair ini); beliau berkata: Sulthanusy Syari'ah wath Thariqah Yusuf al-Hamadani mendendangkan kepadaku:
Janganlah engkau membalas (seseorang) atas perbuatan buruknya;
apa yang ada padanya dan apa yang ia lakukan sudah cukup (menjadi balasan) baginya.
إِذَا شِئْتَ أَنْ تَلْقَى عَدُوَّكَ رَاغِمًا وَتَقْتُلَهُ غَمًّا وَتُحْرِقَهُ هَمًّا
فَرُمْ لِلْعُلَى وَازْدَدْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّهُ مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا زَادَ حَاسِدُهُ غَمًّا
Ada yang berkata: Barang siapa ingin membuat musuhnya terhina (hidungnya tercoreng tanah), hendaklah ia banyak mengulang (ilmu). Dan aku mendendangkan syair ini:
Jika engkau ingin menjumpai musuhmu dalam keadaan terhina,
membunuhnya dengan duka, dan membakarnya dengan kesedihan —
maka kejarlah ketinggian dan tambahlah ilmumu.
Karena barang siapa bertambah ilmunya, bertambah pula duka orang yang dengki kepadanya.
Ada yang berkata: Hendaknya engkau menyibukkan diri dengan kemaslahatan dirimu, bukan dengan mengalahkan musuhmu. Jika engkau menegakkan kemaslahatan dirimu, hal itu dengan sendirinya menjamin terkalahkannya musuhmu.
بَلَوْتُ النَّاسَ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ وَلَمْ أَرَ غَيْرَ خَتَّالٍ وَقَالِ
وَلَمْ أَرَ فِي الْخُطُوبِ أَشَدَّ وَقْعًا وَأَصْعَبَ مِنْ مُعَادَاةِ الرِّجَالِ
وَذُقْتُ مَرَارَةَ الْأَشْيَاءِ طُرًّا وَمَا ذُقْتُ أَمَرَّ مِنَ السُّؤَالِ
Jauhilah permusuhan, karena ia akan mempermalukanmu dan menyia-nyiakan waktumu. Hendaknya engkau bersabar — (terutama) terhadap orang-orang bodoh. Isa bin Maryam — shalawat Allah atasnya — berkata, "Tahanlah satu (gangguan) dari orang bodoh agar kalian beruntung sepuluh." Dan aku mendendangkan syair sebagian mereka:
Aku telah menguji manusia generasi demi generasi,
dan aku tidak melihat selain penipu dan pencela.
Dan aku tidak melihat dalam musibah-musibah sesuatu yang lebih berat menimpa
dan lebih sulit daripada memusuhi orang-orang.
Aku telah merasakan pahitnya segala sesuatu,
dan aku tidak merasakan yang lebih pahit daripada meminta-minta.
Jauhilah berprasangka buruk kepada orang mukmin, karena itu adalah sumber permusuhan, dan hal itu tidak halal — berdasarkan sabda Nabi 'alaihish shalatu wassalam, "Berprasangkalah baik kepada orang-orang mukmin."
إِذَا سَاءَ فِعْلُ الْمَرْءِ سَاءَتْ ظُنُونُهُ وَصَدَّقَ مَا يَعْتَادُهُ مِنْ تَوَهُّمِ
وَعَادَى مُحِبِّيهِ بِقَوْلِ عُدَاتِهِ وَأَصْبَحَ فِي لَيْلٍ مِنَ الشَّكِّ مُظْلِمِ
Prasangka buruk itu muncul dari niat yang busuk dan batin yang buruk, sebagaimana kata Abu ath-Thayyib (al-Mutanabbi):
Jika perbuatan seseorang buruk, buruk pula prasangkanya,
dan ia membenarkan apa yang biasa ia sangkakan.
Ia memusuhi orang-orang yang mencintainya karena ucapan musuh-musuhnya,
dan ia pun berada dalam malam keraguan yang gelap.
تَنَحَّ عَنِ الْقَبِيحِ وَلَا تَرُدَّهُ وَمَنْ أَوْلَيْتَهُ حُسْنًا فَزِدْهُ
سَتُكْفَى مِنْ عَدُوِّكَ كُلَّ كَيْدٍ إِذَا كَادَ الْعَدُوُّ فَلَا تَكِدْهُ
Dan aku mendendangkan (syair) sebagian mereka:
Menjauhlah dari keburukan dan jangan membalasnya;
dan siapa yang telah engkau beri kebaikan, tambahilah.
Engkau akan dicukupi dari setiap tipu daya musuhmu:
jika musuh berbuat makar, janganlah engkau balas bermakar.
ذُو الْعَقْلِ لَا يَسْلَمُ مِنْ جَاهِلٍ يَسُومُهُ ظُلْمًا وَإِعْنَاتًا
فَلْيَخْتَرِ السِّلْمَ عَلَى حَرْبِهِ وَلْيَلْزَمِ الْإِنْصَاتَ إِنْصَاتًا
Dan aku mendendangkan (syair) Syaikh al-'Amid Abu al-Fath al-Busti:
Orang berakal tidak akan selamat dari orang bodoh
yang memperlakukannya dengan zalim dan menyakitkan.
Maka hendaklah ia memilih damai daripada berperang dengannya,
dan hendaklah ia selalu diam — benar-benar diam.
Fasal 10 — Mengambil Manfaat Ilmu dan Mencontoh Adab
Sepatutnya penuntut ilmu selalu mengambil manfaat di setiap waktu, hingga ia memperoleh keutamaan dan kesempurnaan dalam ilmu. Adapun cara mengambil manfaat itu adalah dengan selalu membawa tempat tinta bersamanya di setiap waktu, agar ia mencatat setiap faidah ilmu yang ia dengar.
Ada pepatah: "Barangsiapa hanya menghafal, ia akan lari (ilmunya hilang); barangsiapa menulis, ia akan menetap." Ada pula yang berkata: ilmu itu diambil dari lisan para tokoh (ulama), karena mereka menghafal yang terbaik dari apa yang mereka dengar, dan mereka menyampaikan yang terbaik dari apa yang mereka hafal.
Aku mendengar dari guru, sang imam yang sastrawan, Zainul Islam yang dikenal dengan sebutan Al-Adib Al-Mukhtar, ia berkata: Hilal bin Zaid bin Yasar berkata: Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan sesuatu dari ilmu dan hikmah kepada para sahabatnya, lalu aku berkata: "Wahai Rasulullah, ulangi untukku apa yang engkau sampaikan kepada mereka." Beliau bertanya kepadaku: "Apakah engkau membawa tempat tinta?" Aku menjawab: "Aku tidak membawanya." Maka Nabi 'alaihissalam bersabda: "Wahai Hilal, jangan sekali-kali engkau berpisah dari tempat tinta, karena kebaikan ada di dalamnya dan di dalam para pemiliknya hingga hari kiamat."
Ash-Shadr Asy-Syahid Husamuddin berwasiat kepada putranya Syamsuddin agar menghafal setiap hari sesuatu dari ilmu dan hikmah, karena itu mudah; dan dalam waktu dekat ia akan menjadi banyak. Dan 'Isham bin Yusuf membeli sebuah pena seharga satu dinar agar ia bisa segera mencatat apa yang ia dengar saat itu juga, karena umur itu singkat sedangkan ilmu itu banyak.
Maka sepatutnya penuntut ilmu tidak menyia-nyiakan waktu dan jam-jamnya, dan memanfaatkan malam-malam serta waktu-waktu sunyinya. Dikisahkan dari Yahya bin Mu'adz Ar-Razi (bahwa ia berkata): "Malam itu panjang, maka janganlah engkau memendekkannya dengan tidurmu; siang itu terang, maka janganlah engkau mengotorinya dengan dosa-dosamu."
Dan sepatutnya ia memanfaatkan para guru (selagi mereka ada) dan mengambil manfaat dari mereka, karena tidak setiap yang terlewat bisa didapatkan kembali, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Syaikhul Islam dalam kitab masyikhahnya: "Betapa banyak guru besar yang sempat aku jumpai, tetapi tidak aku tanya-tanya (tentang ilmu)."
Dan aku (mushannif) berkata atas penyesalan ini dengan menggubah bait ini: "Alangkah menyesalnya atas terlewatnya pertemuan, alangkah menyesalnya! Tidak setiap yang telah lewat dan sirna bisa ditemukan kembali."
Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika engkau berada dalam suatu urusan (kebaikan), maka tekunilah ia. Dan cukuplah berpaling dari ilmu Allah sebagai kehinaan dan kerugian; berlindunglah kepada Allah darinya siang dan malam."
Penuntut ilmu tidak bisa tidak harus menanggung kesusahan dan kerendahan diri dalam menuntut ilmu. Merendahkan diri (menjilat) itu tercela, kecuali dalam menuntut ilmu; karena ia harus bersikap merendah kepada guru, teman belajar, dan selain mereka agar bisa mengambil manfaat dari mereka.
Ada yang berkata: "Ilmu itu kemuliaan yang tidak ada kehinaan di dalamnya, tetapi ia tidak bisa diraih kecuali dengan kerendahan diri yang tidak ada kemuliaan di dalamnya."
Dan seorang penyair berkata: "Aku melihat jiwamu ingin engkau muliakan, tetapi engkau tidak akan meraih kemuliaan itu hingga engkau merendahkannya (terlebih dahulu)."
Fasal 11 — Wara' Selama Belajar
Sebagian ulama meriwayatkan sebuah hadits dalam bab ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa tidak bersikap wara' (hati-hati menjaga diri dari yang syubhat) dalam belajarnya, Allah akan mengujinya dengan salah satu dari tiga hal: atau Allah mematikannya di masa mudanya, atau menjatuhkannya ke desa-desa (terpencil), atau mengujinya dengan menjadi pelayan penguasa." Maka semakin penuntut ilmu itu wara', semakin bermanfaat ilmunya, semakin mudah ia belajar, dan semakin banyak faidahnya.
Di antara bentuk wara' (yang sempurna) adalah menjaga diri dari kekenyangan, banyak tidur, dan banyak bicara tentang hal yang tidak bermanfaat.
Dan menjaga diri dari memakan makanan pasar jika memungkinkan, karena makanan pasar lebih dekat kepada najis dan kekotoran, lebih jauh dari dzikir kepada Allah, dan lebih dekat kepada kelalaian; dan juga karena pandangan orang-orang fakir tertuju padanya (ingin memakannya) sedangkan mereka tidak mampu membelinya, lalu mereka tersakiti karenanya sehingga hilanglah keberkahannya.
Dikisahkan bahwa sang imam, guru yang agung, Muhammad bin Al-Fadhl, di masa belajarnya tidak makan dari makanan pasar. Ayahnya tinggal di desa-desa, menyiapkan makanannya, dan mengantarkannya kepadanya setiap hari Jumat. Suatu hari ayahnya melihat roti pasar di rumah putranya, lalu ia tidak mau berbicara dengannya karena marah kepada putranya. Sang putra pun meminta maaf dan berkata: "Bukan aku yang membelinya dan aku pun tidak rela dengannya, tetapi teman belajarkulah yang membawanya." Ayahnya berkata: "Seandainya engkau berhati-hati dan bersikap wara' terhadap hal seperti itu, niscaya temanmu tidak akan berani melakukannya." Demikianlah mereka bersikap wara', maka karena itulah mereka diberi taufik untuk ilmu dan menyebarkannya, hingga nama mereka kekal sampai hari kiamat.
Seorang ahli fikih dari kalangan fuqaha yang zuhud berwasiat kepada penuntut ilmu agar menjaga diri dari ghibah (menggunjing) dan dari duduk-duduk bersama orang yang banyak bicara. Ia berkata: "Orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan menyia-nyiakan waktu-waktumu."
Di antara bentuk wara' adalah menjauhi orang-orang yang rusak, ahli maksiat, dan orang-orang yang mengabaikan (agama); [dan bertetangga dengan orang-orang saleh], karena bertetangga itu berpengaruh. Dan hendaklah ia duduk menghadap kiblat dan mengikuti sunnah Nabi 'alaihishshalatu wassalam, memanfaatkan doa orang-orang baik, dan menjaga diri dari doa (buruk) orang-orang yang terzalimi.
Dikisahkan bahwa dua orang pergi merantau untuk menuntut ilmu, keduanya adalah teman seperjalanan. Setelah bertahun-tahun mereka kembali ke negerinya; yang satu menjadi faqih (paham agama), yang lain tidak. Para fuqaha negeri itu memperhatikan, dan mereka ditanya tentang keadaan keduanya, tentang pengulangan pelajaran dan cara duduk mereka. Lalu dikabarkan bahwa duduknya orang yang menjadi faqih itu ketika mengulang pelajaran adalah menghadap kiblat dan menghadap kota tempat ia memperoleh ilmu; sedangkan yang satunya duduk membelakangi kiblat dan wajahnya menghadap selain kota itu. Maka para ulama dan fuqaha sepakat bahwa orang yang menjadi faqih itu menjadi faqih berkat keberkahan menghadap kiblat — karena itu adalah sunnah dalam duduk kecuali saat darurat — dan berkat doa kaum muslimin, karena suatu kota tidak akan sepi dari para ahli ibadah, orang-orang baik, dan orang-orang zuhud. Maka yang tampak (jelas) adalah bahwa ada seorang ahli ibadah yang mendoakannya di malam hari.
Maka sepatutnya penuntut ilmu tidak meremehkan adab-adab dan sunnah-sunnah. Barangsiapa meremehkan adab, ia akan terhalang dari sunnah; barangsiapa meremehkan sunnah, ia akan terhalang dari kewajiban; dan barangsiapa meremehkan kewajiban, ia akan terhalang dari akhirat. Sebagian ulama meriwayatkan ini sebagai hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan sepatutnya ia memperbanyak shalat, dan shalat dengan shalatnya orang-orang yang khusyuk, karena itu akan menolongnya dalam meraih dan mempelajari ilmu.
كُنْ لِلْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي حَافِظًا وَعَلَى الصَّلَاةِ مُوَاظِبًا وَمُحَافِظًا
وَاطْلُبْ عُلُومَ الشَّرْعِ وَاجْهَدْ وَاسْتَعِنْ بِالطَّيِّبَاتِ تَصِرْ فَقِيهًا حَافِظًا
وَاسْأَلْ إِلَهَكَ حِفْظَ حِفْظِكَ رَاغِبًا مِنْ فَضْلِهِ فَاللَّهُ خَيْرُ حَافِظٍ
Aku (mushannif) melantunkan syair milik Syaikh, sang imam yang agung, yang zuhud, Al-Hajj Najmuddin 'Umar bin Muhammad An-Nasafi:
"Jadilah penjaga perintah-perintah dan larangan-larangan (Allah), dan tekunilah shalat serta jagalah ia."
"Tuntutlah ilmu-ilmu syariat, bersungguh-sungguhlah, dan mintalah tolong (kepada Allah) dengan (makanan) yang baik-baik, niscaya engkau menjadi faqih yang hafal."
"Mintalah kepada Tuhanmu agar Dia menjaga hafalanmu dengan penuh harap dari karunia-Nya, karena Allah adalah sebaik-baik penjaga."
وَاطْلُبْ عُلُومَ الشَّرْعِ وَاجْهَدْ وَاسْتَعِنْ بِالطَّيِّبَاتِ تَصِرْ فَقِيهًا حَافِظًا
وَاسْأَلْ إِلَهَكَ حِفْظَ حِفْظِكَ رَاغِبًا مِنْ فَضْلِهِ فَاللَّهُ خَيْرُ حَافِظًا
"Jadilah penjaga perintah-perintah dan larangan-larangan (Allah), dan tekunilah shalat serta jagalah ia."
"Tuntutlah ilmu-ilmu syariat, bersungguh-sungguhlah, dan mintalah tolong (kepada Allah) dengan (makanan) yang baik-baik, niscaya engkau menjadi faqih yang hafal."
"Mintalah kepada Tuhanmu agar Dia menjaga hafalanmu dengan penuh harap dari karunia-Nya, karena Allah adalah sebaik-baik penjaga."
أَطِيعُوا وَجِدُّوا وَلَا تَكْسَلُوا وَأَنْتُمْ إِلَى رَبِّكُمْ تَرْجِعُونَ
وَلَا تَهْجَعُوا فَخِيَارُ الْوَرَى قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Dan beliau rahimahullah berkata:
"Taatlah dan bersungguh-sungguhlah, janganlah bermalas-malasan, karena kalian akan kembali kepada Tuhan kalian."
"Janganlah banyak tidur; karena sebaik-baik manusia itu hanya sedikit tidur di malam hari."
Dan sepatutnya ia selalu membawa buku catatan dalam segala keadaan untuk dibaca-bacanya. Ada yang berkata: "Barangsiapa buku catatan tidak ada di sakunya, maka hikmah tidak akan menetap di hatinya." Dan sepatutnya di dalam buku catatan itu ada halaman kosong, dan ia membawa tempat tinta untuk mencatat apa yang ia dengar dari para ulama. Dan kami telah menyebutkan hadits Hilal bin Yasar (tentang ini).
Fasal 12 — Penguat Hafalan dan Penyebab Lupa
Penyebab hafalan yang paling kuat adalah: kesungguhan dan ketekunan, mengurangi makanan, shalat malam, dan membaca Al-Qur'an termasuk sebab-sebab (yang menguatkan) hafalan.
Ada yang berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih menambah hafalan daripada membaca Al-Qur'an dengan melihat (mushaf)." Dan membaca dengan melihat itu lebih utama, berdasarkan sabda beliau 'alaihishshalatu wassalam: "Amalan umatku yang paling agung adalah membaca Al-Qur'an dengan melihat (mushaf)."
Syaddad bin Hakim melihat sebagian saudaranya dalam mimpi, lalu ia berkata kepada saudaranya itu: "Apa yang engkau dapati paling bermanfaat?" (Ia menjawab:) "Membaca Al-Qur'an dengan melihat (mushaf)."
Dan ia (penuntut ilmu) membaca ketika mengangkat kitab (mulai belajar): "Bismillah, Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhimil 'azizil 'alim, sebanyak setiap huruf yang telah ditulis dan yang akan ditulis selama-lamanya dan sepanjang masa." Dan ia membaca setelah setiap shalat fardhu: "Aku beriman kepada Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Benar, semata-mata Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan aku ingkar kepada selain-Nya."
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ [فَأَرْشَدَنِيْ] إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصٍ
Dan ia memperbanyak shalawat kepada Nabi 'alaihissalam, karena menyebut-nyebut beliau adalah rahmat bagi seluruh alam. [Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata:] "Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waki', lalu ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Karena sesungguhnya hafalan itu adalah karunia dari Allah, dan karunia Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat."
Bersiwak, meminum madu, memakan kundur (kemenyan arab) bersama gula, dan memakan dua puluh satu butir kismis merah setiap hari dalam keadaan perut kosong — semuanya mendatangkan (menguatkan) hafalan dan menyembuhkan banyak penyakit dan penderitaan. Dan setiap hal yang mengurangi dahak dan kelembapan (tubuh) akan menambah hafalan, sedangkan setiap hal yang menambah dahak akan mendatangkan kelupaan.
Adapun hal-hal yang mendatangkan kelupaan adalah: maksiat, banyak dosa, kegelisahan dan kesedihan dalam urusan dunia, banyak kesibukan dan keterikatan (hati). Dan kami telah menyebutkan bahwa tidak sepatutnya orang yang berakal bersedih memikirkan urusan dunia, karena itu membahayakan dan tidak bermanfaat. Kegelisahan dunia tidak lepas dari kegelapan di dalam hati, sedangkan kegelisahan akhirat tidak lepas dari cahaya di dalam hati, dan pengaruhnya tampak dalam shalat: kegelisahan dunia menghalanginya dari kebaikan-kebaikan, sedangkan kegelisahan akhirat mendorongnya kepadanya.
اِسْتَعِنْ نَصْرَ بْنَ الْحَسَنِ فِيْ كُلِّ عِلْمٍ يُحْتَزَنُ
ذَاكَ الَّذِيْ يَنْفِي الْحَزَنَ وَمَا سِوَاهُ بَاطِلٌ لَا يُؤْتَمَنُ
Menyibukkan diri dengan shalat secara khusyuk dan meraih ilmu akan menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Nashr bin Al-Hasan Al-Marghinani dalam qashidahnya: "Mintalah tolonglah dengan (menyebut) Nashr bin Al-Hasan dalam setiap ilmu yang dikuasai — dialah yang menghilangkan kesedihan, dan selain itu adalah batil yang tidak dapat dipercaya."
Dan Syaikh, sang imam yang agung, Najmuddin 'Umar bin Muhammad An-Nasafi berkata tentang seorang ummu walad (budak perempuan yang melahirkan anak tuannya) miliknya:
"Salam untuk dia yang telah memperbudakku dengan keelokannya, dengan kilau pipinya, dan dengan lirikan matanya."
"Seorang gadis yang elok telah menawan dan mengenaku; angan-angan pun bingung untuk menggambarkan hakikat sifatnya."
"Maka aku berkata: 'Biarkanlah aku dan maafkanlah aku, karena sesungguhnya aku telah terpesona untuk meraih ilmu dan menyingkapnya.'"
"Bagiku, dalam mencari keutamaan, ilmu, dan ketakwaan, ada kecukupan yang membuatku tidak butuh pada nyanyian para biduanita dan keharuman mereka."
Adapun sebab-sebab lupa ilmu adalah: memakan ketumbar yang basah, apel yang asam, melihat orang yang disalib, membaca tulisan yang tertulis di batu-batu kuburan, berjalan di antara rombongan unta, melemparkan kutu yang hidup ke tanah, dan berbekam pada lekukan tengkuk — semuanya mendatangkan kelupaan.
Fasal 13 — Rezeki, Penghalangnya, dan Umur
Kemudian, penuntut ilmu tidak bisa tidak membutuhkan kekuatan (fisik) dan pengetahuan tentang apa yang menambahkannya, serta apa yang menambah umur dan kesehatan, agar ia bisa fokus dalam menuntut ilmu. Dan dalam setiap hal itu para ulama telah mengarang kitab-kitab; maka aku sebutkan sebagiannya di sini secara ringkas.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali kebaikan (birr). Karena sesungguhnya seseorang benar-benar dihalangi dari rezeki akibat dosa yang ia lakukan." Dengan hadits ini menjadi jelas bahwa berbuat dosa adalah sebab terhalangnya rezeki, terutama dusta, karena ia mendatangkan kefakiran; dan telah datang hadits khusus tentang hal itu.
سُرُوْرُ النَّاسِ فِيْ لُبْسِ اللِّبَاسِ وَجَمْعُ الْعِلْمِ فِيْ تَرْكِ النُّعَاسِ
Demikian pula tidur di waktu pagi menghalangi rezeki, dan banyak tidur mendatangkan kefakiran — juga kefakiran ilmu. Seorang penyair berkata dalam syairnya: "Kegembiraan manusia itu ada pada memakai pakaian (yang bagus), sedangkan terkumpulnya ilmu ada pada meninggalkan kantuk."
Dan ia berkata: "Bukankah termasuk kesedihan (yang pantas disesali) bahwa malam-malam berlalu tanpa manfaat, padahal engkau merugi dari umurmu?"
Dan ia berkata lagi: "Bangunlah di malam hari, wahai engkau, semoga engkau mendapat petunjuk. Sampai kapan engkau tidur di malam hari, sedangkan umur terus habis?"
Tidur telanjang, buang air kecil telanjang, makan dalam keadaan junub, makan sambil berbaring miring, meremehkan remah-remah makanan yang jatuh (tidak diambil), membakar kulit bawang merah dan bawang putih, menyapu rumah di malam hari dengan saputangan, membiarkan sampah di dalam rumah, berjalan di depan para guru (mendahului mereka), memanggil kedua orang tua dengan nama mereka, bersugi dengan setiap kayu, mencuci kedua tangan dengan lumpur dan tanah, duduk di ambang pintu, bersandar pada salah satu daun pintu, berwudhu di tempat buang hajat, menjahit pakaian yang sedang dipakai di badan, mengeringkan wajah dengan pakaian, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah, meremehkan shalat, tergesa-gesa keluar dari masjid setelah shalat Subuh, berangkat pagi-pagi ke pasar, lambat pulang darinya, membeli remah-remah roti dari orang-orang fakir, meminta-minta, mendoakan keburukan untuk orang tua, tidak menutup bejana-bejana, dan memadamkan lampu dengan tiupan nafas — semuanya itu mendatangkan kefakiran; hal itu diketahui dari atsar-atsar (riwayat para salaf).
Demikian pula menulis dengan pena yang terikat, menyisir dengan sisir yang patah, meninggalkan doa untuk kedua orang tua, memakai sorban sambil duduk, memakai celana sambil berdiri, kikir dan pelit, berlebih-lebihan (boros), malas, loyo, dan meremehkan urusan-urusan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Turunkanlah rezeki dengan sedekah."
Berpagi-pagi (bangun dan beraktivitas di pagi hari) itu diberkahi; ia menambah semua nikmat, terutama rezeki. Nasib baik (keberuntungan) termasuk kunci-kunci rezeki; dan wajah yang cerah serta tutur kata yang baik akan menambah hafalan dan rezeki. Dari Al-Hasan bin Ali: "Menyapu halaman dan mencuci bejana mendatangkan kekayaan."
Sebab yang paling kuat untuk menarik rezeki adalah menegakkan shalat dengan pengagungan dan kekhusyukan, menyempurnakan rukun-rukunnya serta seluruh kewajiban, sunnah, dan adab-adabnya. Shalat Dhuha dalam hal itu sudah dikenal (keutamaannya); (demikian pula) membaca surat Al-Waqi'ah terutama di malam hari menjelang tidur, membaca (surat) Al-Mulk, Al-Muzzammil, Al-Lail (wal-laili idza yaghsya), dan Asy-Syarh (alam nasyrah laka); hadir di masjid sebelum azan; terus-menerus menjaga kesucian (wudhu); melaksanakan sunnah Fajar dan Witir di rumah; dan tidak berbicara tentang urusan dunia setelah (shalat) Witir.
Dan janganlah banyak duduk-duduk bersama para wanita kecuali saat ada kebutuhan.
Dan janganlah berbicara dengan perkataan yang sia-sia. Ada yang berkata: "Barangsiapa menyibukkan diri dengan hal yang tidak penting baginya, ia akan kehilangan hal yang penting baginya." Buzurjumihr berkata: "Jika engkau melihat seseorang banyak bicara, maka yakinilah kegilaannya."
Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika akal telah sempurna, maka berkuranglah perkataan."
Mushannif rahimahullah berkata: "Dan aku mendapati dalam makna ini sebuah syair (milikku):"
"Jika akal seseorang telah sempurna, sedikitlah bicaranya; dan yakinilah kedunguan seseorang jika ia banyak bicara."
"Berbicara itu perhiasan, sedangkan diam itu keselamatan; maka jika engkau berbicara, janganlah menjadi orang yang banyak bicara."
"Aku tidak pernah menyesal karena diam, sekalipun; tetapi sungguh aku telah menyesal karena berbicara, berkali-kali."
Adapun hal-hal yang menambah rezeki adalah: membaca setiap hari setelah terbit fajar hingga waktu shalat: "Subhanallahil 'azhim wa bihamdih, Subhanallahil 'azhim wa bihamdih, wa astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih" sebanyak seratus kali; dan membaca: "La ilaha illallahul malikul haqqul mubin" setiap hari pagi dan sore sebanyak seratus kali.
Dan membaca setelah shalat Subuh setiap hari: "Alhamdulillah, Subhanallah, La ilaha illallah" masing-masing tiga puluh tiga kali; dan setelah shalat Maghrib juga demikian; dan beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali setelah shalat Subuh; dan memperbanyak ucapan: "La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim" serta shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan membaca pada hari Jumat sebanyak tujuh puluh kali: "Allahumma aghnini bihalalika 'an haramik, wakfini bifadhlika 'amman siwak."
Dan membaca pujian ini setiap siang dan malam: "Engkau adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana; Engkau adalah Allah Raja Yang Maha Suci; Engkau adalah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mulia; Engkau adalah Allah pencipta kebaikan dan keburukan; Engkau adalah Allah pencipta surga dan neraka; Engkau adalah Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata; Engkau adalah Allah Yang Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi; Engkau adalah Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi; Engkau adalah Allah pencipta segala sesuatu dan kepada-Nya kembali segala sesuatu; Engkau adalah Allah Hakim (penguasa) di hari pembalasan; Engkau senantiasa ada dan akan senantiasa ada; Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung; tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya; Engkau adalah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memaksa, Yang Maha Tinggi dari segala kekurangan; tidak ada tuhan selain Engkau, Sang Pencipta, Sang Pembentuk, Sang Pemberi rupa; milik-Nya nama-nama yang paling baik; bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi; dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Adapun hal-hal yang menambah umur adalah: kebaikan (birr), meninggalkan gangguan (kepada orang lain), menghormati orang-orang tua, menyambung silaturahmi; dan membaca setiap pagi dan sore, setiap hari, tiga kali: "Subhanallah sepenuh timbangan, seujung ilmu (Allah), sebesar keridhaan, dan seberat 'Arsy. La ilaha illallah sepenuh timbangan, seujung ilmu (Allah), dan seberat 'Arsy. Allahu Akbar sepenuh timbangan, seujung ilmu (Allah), sebesar keridhaan, dan seberat 'Arsy."
Dan menjaga diri dari menebang pohon-pohon yang basah (hidup) kecuali saat darurat; menyempurnakan wudhu; shalat dengan pengagungan; (membaca) Al-Qur'an di antara haji dan umrah; dan menjaga kesehatan.
Dan ia tidak bisa tidak harus mempelajari sedikit ilmu kedokteran (kesehatan), dan bertabarruk dengan atsar-atsar yang datang tentang pengobatan yang dikumpulkan oleh Imam Abul 'Abbas Al-Mustaghfiri dalam kitabnya yang bernama "Thibbun Nabi" 'alaihissalam — barangsiapa mencarinya akan mendapatkannya (karena ia adalah kitab yang masyhur).
Segala puji bagi Allah atas kesempurnaan (kitab ini). Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kita Muhammad, yang paling utama di antara para rasul yang mulia, serta kepada keluarga dan para sahabatnya — para imam yang menjadi panutan — sepanjang berlalunya masa dan bergantinya hari-hari. Amin.
Catatan: teks Arab diberi harakat untuk membantu bacaan; terjemah Indonesia pada halaman ini ditulis ulang dari matan Arab untuk bahan pembelajaran. Untuk pemahaman yang mendalam, pelajarilah kitab ini bersama guru atau ustadz.